Yes! 50 Scientifically Proven Ways to be Persuasive
Bab 24 Who is the better persuader? Devil’s advocate or true dissenter?
Authentic Dissent (Perbedaan Pendapat Otentik)
1. Problem
Bencana pesawat ulang-alik Challenger dan Columbia milik NASA memiliki satu akar penyebab yang sama: budaya pengambilan keputusan yang buruk. Dalam banyak organisasi, pemimpin sering kali merasa aman karena mereka telah menunjuk seorang "Devil's Advocate" (Advokat Iblis)—seseorang yang ditugaskan berpura-pura menentang ide mayoritas untuk menguji keputusan. Namun, peran pura-pura ini sering kali gagal mencegah bencana. Mengapa simulasi perdebatan tidak cukup untuk mematahkan Groupthink (pemikiran kelompok yang seragam)?
2. Prinsip Psikologis
Authentic Dissent vs. Devil's Advocate. Ada perbedaan besar antara seseorang yang berpura-pura tidak setuju (karena disuruh) dengan seseorang yang benar-benar tidak setuju (karena prinsip).
Devil's Advocate (Simulasi): Anggota kelompok lain tahu dia hanya "berakting". Akibatnya, argumennya dianggap angin lalu atau sekadar gangguan prosedural. Ini justru berbahaya karena memberi rasa aman palsu ("Kita sudah debat kok, jadi keputusan ini pasti benar").
True Dissenter (Otentik): Ketika seseorang benar-benar menentang mayoritas secara tulus, kelompok dipaksa untuk berpikir lebih keras dan kompleks untuk memahami mengapa orang tersebut begitu yakin. Ini memicu kreativitas dan pemecahan masalah yang lebih dalam.
3. Bukti Penelitian
Sejarah Gereja Katolik: Selama berabad-abad, Gereja menggunakan Advocatus Diaboli untuk menguji kandidat santo. Namun, praktik ini dihapus karena dianggap kurang efektif jika hanya sekadar formalitas birokrasi, bukan pencarian kebenaran sejati.
Studi Charlan Nemeth: Membandingkan efektivitas pemecahan masalah dalam kelompok yang memiliki Devil's Advocate vs True Dissenter.
Hasilnya, kelompok dengan Devil's Advocate kurang efektif dalam memecahkan masalah kompleks. Mayoritas anggota mengabaikan argumen si advokat karena dianggap "asal beda" atau artifisial.
Sebaliknya, kelompok dengan True Dissenter menghasilkan solusi yang jauh lebih inovatif. Ketulusan penentang membuat argumennya divalidasi dan dipikirkan ulang oleh mayoritas.
4. Lima contoh penerapan taktis dalam kehidupan sehari-hari
Jangan Tunjuk Orang Sembarangan: Saat rapat, jangan asal menunjuk Budi untuk jadi "si pengkritik" (Devil's Advocate). Itu tidak berguna. Sebaliknya, tanyakan: "Siapa di sini yang benar-benar memiliki keraguan atau melihat risiko yang belum kita bahas?" Carilah orang yang benar-benar ragu, dan berikan panggung padanya.
Undang Pihak Luar (The Outsider): Jika tim Anda terlalu kompak dan "satu suara", undang konsultan atau ahli dari departemen lain yang tidak punya kepentingan politik di tim Anda. Karena mereka orang luar, kritik mereka akan terasa otentik dan objektif, bukan sekadar sandiwara rapat.
Lindungi "Si Pembeda" (Psychological Safety): Di lingkungan berisiko tinggi (rumah sakit/penerbangan), perawat sering takut mengoreksi dokter, atau kopilot takut menegur kapten. Pemimpin harus secara aktif memuji mereka yang berani beda pendapat: "Terima kasih Rina sudah mengingatkan saya soal risiko itu. Itu poin bagus." Validasi publik ini memicu orang lain untuk berani bicara jujur.
Tinggalkan Ego di Pintu: Pemimpin harus memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa mereka bisa salah. Sebelum mengambil keputusan besar, katakan: "Saya condong ke pilihan A, tapi saya sangat ingin tahu kenapa pilihan A ini mungkin ide buruk. Tolong yakinkan saya kenapa saya salah."
Kotak Saran Anonim: Jika budaya "asal bapak senang" sudah terlalu kental, gunakan saluran anonim untuk menjaring pendapat otentik. Orang sering kali baru berani menjadi True Dissenter ketika identitas mereka dilindungi. Gunakan masukan anonim ini sebagai bahan diskusi serius, bukan sekadar dibaca lalu dibuang.