The Korean Gorilla

ASML's Architects 
Bab 73
The Korean Gorilla

#1: Undangan Mengejutkan (Musim Gugur 1993)

Direktur Penjualan Doug Marsh menerima telepon mengejutkan dari manajer pembelian Samsung.

Karpet Merah: Marsh diundang ke Seoul, dijemput taksi, dan dijamu makan malam mewah bersama direktur senior. Ini tidak pernah terjadi dalam sejarah ASML.

Motivasi Samsung: Samsung sedang naik daun sebagai produsen DRAM nomor 1 dunia (mengalahkan Jepang). Mereka ingin tahu: Bagaimana mesin Belanda bisa membantu mereka menjadi yang terbaik?

Mata-Mata: Ternyata Samsung tahu kehebatan ASML setelah mengintip pabrik Micron di AS, di mana mesin PAS 5500 bekerja dengan kecepatan dan keandalan fenomenal.

#2: Sejarah Kegagalan & Benturan Budaya

Sebelumnya, upaya ASML menembus Samsung selalu gagal.

Martin vs Budaya Korea: Martin van den Brink sering gagal bernegosiasi di Korea. Gayanya yang keras (arrogant know-it-all) bertabrakan dengan budaya Korea yang juga keras dan terkadang fisik (melempar barang, menyita paspor).

Strategi Satu Ukuran: Martin menolak permintaan kustomisasi Samsung karena ASML tidak punya sumber daya untuk membuat mesin khusus (one size fits all). Negosiasi selalu buntu.

#3: Perubahan Strategi: "Demi Setengah Miliar Dolar"

Pada akhir 1993, posisi ASML menguat secara teknis dan finansial.

Peluang Emas: Potensi kesepakatan dengan Samsung bernilai lebih dari $500 juta (100+ mesin).

Kompromi: Martin, George, dan Polak sepakat melanggar prinsip "satu ukuran". Demi pesanan raksasa ini, mereka bersedia memenuhi semua tuntutan kustomisasi Samsung.

#4: Drama Negosiasi Verdonschot

Negosiasi harga memanas. Manajer pembelian Samsung menuntut diskon 30% secara sepihak.

Bluff Verdonschot: Gerard Verdonschot menolak mentah-mentah. "Saya pikir Anda mengundang kami untuk efisiensi, bukan minta sumbangan." Ia berdiri dan mengajak Marsh pergi (walk out).

Kepanikan Marsh: Di bar hotel, Marsh panik karena takut kehilangan pelanggan. Verdonschot tenang: "Kita bukan Bunda Teresa. Kalau kita kasih 30%, kita tidak untung."

Pemandangan Kontras: Di bar yang sama, mereka melihat sales dari kompetitor (Applied & Novellus) yang stres dan menyerah pada diskon 30-35% Samsung. Verdonschot tetap teguh.

#5: Kemenangan Value of Ownership

Strategi Verdonschot berhasil. Samsung butuh mesin cepat untuk memenangkan pasar DRAM, jadi harga mesin bukan masalah utama dibanding kecepatan time-to-market.

Kesepakatan: Sebulan kemudian, Samsung memohon negosiasi ulang. Willem Maris terbang ke Seoul dan menyegel kesepakatan dengan jabat tangan (harga wajar, tanpa diskon gila).

Pengiriman: Mesin PAS 5500 pertama tiba di Samsung pada Februari 1995. Samsung kemudian beralih 100% ke mesin ASML, meninggalkan Nikon.

#6: Ekspansi Korea (Hantech & Hynix)

Mitra Lokal: Alih-alih membuka kantor sendiri, ASML bermitra dengan Hantech untuk layanan lokal, strategi cerdas mengatasi hambatan budaya.

Robocop: Pesaing Samsung, Hynix, juga beralih ke ASML pada 1996. Mesin PAS 5500 di sana dijuluki "Robocop" karena ketangguhannya mencetak wafer tanpa henti. Pada 1998, Hynix bahkan menjadi pelanggan terbesar ASML.

Leave a Comment