Chip War
Bab 14
The Pentagon’s Offset Strategy
#1: Kedatangan William Perry dan Tantangan Soviet (1977)
William Perry, seorang ilmuwan Silicon Valley yang juga penyanyi paduan suara bersama Bob Noyce (CEO Intel), tiba di Pentagon pada tahun 1977 sebagai Wakil Menteri Pertahanan untuk Riset dan Rekayasa. Ia membawa visi unik: bagaimana mikroprosesor dapat merevolusi militer.
Latar belakang kedatangannya suram. Pasca-Vietnam, AS kehilangan keunggulan militer. Analis Pentagon, Andrew Marshall, memperingatkan bahwa Uni Soviet memiliki keunggulan kuantitatif yang tak tertandingi dalam jumlah rudal, tank, dan pesawat di Eropa. AS, yang tertekan secara ekonomi, tidak mungkin mengejar ketertinggalan ini dengan cara tradisional ("tank lawan tank").
#2: Konsep "Offset Strategy" dan Keunggulan Akurasi (1970-an)
Marshall dan Perry merumuskan strategi baru: menggunakan keunggulan AS dalam komputer untuk "mengimbangi" (offset) keunggulan jumlah Soviet. Marshall membayangkan perang masa depan sebagai kontes akurasi, bukan volume.
Perry, yang akrab dengan Hukum Moore, bertaruh bahwa menanamkan chip kalkulator ke dalam rudal akan menciptakan senjata pintar (smart weapons). Logikanya: satu rudal pintar yang akurat jauh lebih efektif daripada ribuan bom bodoh. Ini akan memaksa Soviet menghabiskan $30-$50 miliar untuk sistem pertahanan yang sia-sia, membuat mereka bangkrut secara strategis.
#3: Realisasi Senjata Pintar dan "Assault Breaker"
Di bawah kepemimpinan Perry dan Menteri Pertahanan Harold Brown, Pentagon menggelontorkan dana ke dalam sistem senjata berbasis mikroelektronika. Ini melahirkan:
Rudal Jelajah Tomahawk: Menggunakan chip untuk memindai peta medan secara real-time dan mengoreksi jalur, sesuatu yang mustahil dilakukan dengan tabung vakum.
Satelit GPS: Memberikan koordinat presisi di mana saja di bumi.
Program "Assault Breaker" (DARPA): Visi perang otomatis di mana radar udara, pusat pemrosesan darat, dan rudal pintar saling berkomunikasi untuk menghancurkan target secara mandiri.
#4: Skeptisisme dan Kemenangan Jangka Panjang (Awal 1980-an)
Ketika Perry meninggalkan jabatannya pada 1981, visinya diserang oleh kritikus "Luddite" di Kongres yang menganggap senjata pintar sebagai fiksi ilmiah yang mahal dan rentan rusak. Mereka gagal memahami kecepatan eksponensial Hukum Moore.
Namun, sejarah membuktikan Perry benar. Meskipun militer AS kalah di Vietnam, industri chip memenangkan perdamaian dengan menciptakan fondasi teknologi yang mengikat Asia ke AS dan membuat Soviet tertinggal karena hanya bisa meniru. Transformasi ini mengubah militer AS dari kekuatan berbasis kuantitas menjadi kekuatan berbasis kualitas yang bergantung sepenuhnya pada kesuksesan Silicon Valley.