Chip War
Bab Introduction
Pendahuluan
#1: Misi USS Mustin dan Krisis Selat Taiwan (2020)
Pada 18 Agustus 2020, kapal perusak AS, USS Mustin, berlayar melalui Selat Taiwan untuk menegaskan kebebasan navigasi di perairan internasional. Di sisi lain, China menanggapi dengan latihan militer tembak-menembak.
Latar belakang ketegangan ini bukan sekadar pamer kekuatan militer konvensional seperti Perang Dingin, melainkan konflik teknologi. Hari itu, Beijing lebih khawatir tentang peraturan Departemen Perdagangan AS yang baru diperketat ("Entity List") yang menargetkan Huawei. AS menggunakan "cekikan chip" untuk melumpuhkan ekspansi global raksasa teknologi China tersebut, menandakan pergeseran medan perang dari nuklir ke silikon.
#2: Realitas di Balik Dunia Digital: 1 dan 0 yang Fisik
Dunia digital yang terdiri dari aliran data "1 dan 0" sebenarnya bersifat fisik; mereka adalah arus listrik yang dikendalikan oleh transistor mikroskopis pada keping silikon.
Industri ini telah mencapai skala yang sulit dibayangkan. Pada tahun 2020, TSMC memproduksi chip iPhone 12 (A14) yang masing-masing berisi 11,8 miliar transistor. Secara total, tahun lalu industri chip memproduksi lebih banyak transistor daripada gabungan jumlah semua barang yang pernah diproduksi manusia sepanjang sejarah. Skala ini dimungkinkan oleh Hukum Moore—prediksi Gordon Moore tahun 1965—yang telah mendorong penurunan biaya komputasi hingga satu miliar kali lipat dalam setengah abad terakhir.
#3: Monopoli dan Kerapuhan Rantai Pasok
Produksi kekuatan komputasi dunia sangat bergantung pada serangkaian "titik tersedak" (choke points). Tidak seperti minyak yang bisa dibeli dari banyak negara, chip canggih hanya bisa dibuat menggunakan alat dari segelintir perusahaan (seperti ASML Belanda yang memonopoli mesin EUV 100%).
Ketergantungan geografisnya lebih ekstrem lagi:
- Taiwan (TSMC) memproduksi 37% dari daya komputasi logika baru dunia setiap tahun.
- Korea Selatan memproduksi 44% chip memori dunia.
- AS masih memegang kendali atas desain, software, dan alat manufaktur kunci.
Konsentrasi ini menciptakan efisiensi luar biasa namun juga kerentanan fatal. Gempa bumi atau konflik militer di Taiwan dapat melumpuhkan ekonomi global jauh lebih parah daripada pandemi COVID-19.
#4: Perang Chip: Byte vs Barel
China kini menghabiskan lebih banyak uang untuk mengimpor chip daripada mengimpor minyak. Bagi Beijing, ancaman blokade teknologi ("byte") kini lebih menakutkan daripada blokade energi ("barel") di Selat Malaka.
Strategi besar Beijing adalah membebaskan diri dari ketergantungan teknologi AS dengan membangun industri semikonduktor sendiri. Jika China berhasil, ini akan mereset keseimbangan kekuatan militer dan ekonomi global, karena teknologi masa depan (AI, senjata otonom) semuanya bergantung pada chip canggih.
#5: Sejarah yang Membentuk Masa Depan
Buku ini berargumen bahwa semikonduktor telah mendefinisikan dunia modern—membentuk politik internasional, struktur ekonomi global, dan keseimbangan militer.
Sejarah chip adalah sejarah yang diperebutkan, dibentuk bukan hanya oleh ilmuwan dan pasar bebas, tetapi juga oleh ambisi pemerintah dan imperatif perang. Dari asal-usulnya di Silicon Valley hingga pusat gravitasinya saat ini di Selat Taiwan yang berbahaya, nasib dunia kini bergantung pada triliunan transistor dan segelintir perusahaan yang tak tergantikan.