Chip War
Bab 51
The Assault on Huawei
#1: Pembukaan Front Baru: "Spyway" (2018 - 2019)
Pemerintahan Trump, dengan retorika "Spyway", mulai menargetkan Huawei bukan hanya sebagai ancaman spionase, tetapi sebagai "proxy" dari kesalahan strategi teknologi AS selama beberapa dekade. Pejabat keamanan nasional melihat Huawei telah menyusup ke jantung sistem ("inside the system"), menggunakan alat dan perangkat lunak AS untuk membangun dominasi teknologi China.
Kampanye diplomatik AS dimulai dengan melobi sekutu untuk memblokir Huawei dari jaringan 5G. Australia menjadi negara pertama yang memberlakukan larangan total pada tahun 2018, diikuti oleh Jepang dan Selandia Baru. Sementara itu, Eropa terbelah; Inggris awalnya menolak larangan, namun akhirnya berbalik arah setelah menyadari risiko ketergantungan jangka panjang.
#2: Mengapa Sony dan Samsung Boleh, Huawei Tidak?
Pertanyaan mendasar di Washington adalah: mengapa AS mendukung kebangkitan Sony (Jepang) dan Samsung (Korea), tetapi ingin "mencekik" Huawei?
Jawabannya terletak pada geopolitik zero-sum. Sony dan Samsung berasal dari negara sekutu, sedangkan Huawei adalah juara nasional dari rival geopolitik utama. Pejabat AS, seperti Senator Ben Sasse, menyimpulkan bahwa membiarkan Huawei menggunakan desain AS untuk memajukan kemampuan mikroelektronika China adalah tindakan bunuh diri strategis, karena "perang modern diperjuangkan dengan semikonduktor."
#3: Memperketat Jerat Sanksi (Mei 2020)
Sanksi awal yang hanya melarang penjualan chip buatan AS ternyata tidak efektif, karena Huawei masih bisa memproduksi chip desain sendiri (HiSilicon) di pabrik TSMC Taiwan.
Menyadari celah ini, Departemen Perdagangan AS mengeluarkan "Foreign Direct Product Rule" pada Mei 2020. Aturan ini melarang penjualan chip apa pun—di mana pun dibuatnya—jika proses pembuatannya menggunakan teknologi atau perangkat lunak AS. Karena TSMC menggunakan alat AS dan Huawei mendesain dengan software AS, aturan ini secara efektif memutus akses Huawei ke seluruh infrastruktur pembuatan chip dunia, tidak hanya yang ada di tanah Amerika.
#4: Senjata Interdependensi (Weaponized Interdependence)
Langkah AS ini merupakan penerapan nyata dari teori "Weaponized Interdependence" karya akademisi Henry Farrell dan Abraham Newman. Alih-alih meredakan konflik, jaringan globalisasi yang saling terhubung justru menjadi medan perang baru.
Weaponized Interdependence (Saling Ketergantungan yang Disenjatai) adalah konsep dalam hubungan internasional yang menantang pandangan tradisional bahwa globalisasi dan konektivitas ekonomi otomatis membawa perdamaian. Teori ini menyoroti bahwa jaringan global yang kompleks—seperti rantai pasok semikonduktor, sistem keuangan internasional (misalnya SWIFT), atau infrastruktur internet—tidak terdesentralisasi secara merata, melainkan memiliki "titik simpul" (chokepoints) sentral yang dikendalikan oleh segelintir negara kuat. Alih-alih menciptakan stabilitas, struktur jaringan yang timpang ini justru menciptakan kerentanan strategis bagi negara-negara yang bergantung padanya.
Negara yang menguasai titik-titik simpul ini dapat "mempersenjatai" posisi mereka untuk tujuan koersif, menggunakan akses terhadap jaringan vital sebagai alat penekan geopolitik. Contoh paling jelas adalah bagaimana Amerika Serikat menggunakan kendalinya atas kekayaan intelektual dan alat desain chip untuk memutus akses perusahaan seperti Huawei dari manufaktur global, atau penggunaan sanksi finansial untuk mengisolasi ekonomi negara rival. Fenomena ini mengubah lanskap perdagangan dan teknologi yang dulunya dianggap netral menjadi medan pertempuran keamanan nasional yang krusial.
AS memanfaatkan posisinya sebagai pemegang "titik tersedak" (choke points) dalam rantai pasok chip (seperti software desain Cadence/Synopsys dan alat fabrikasi) untuk melumpuhkan lawan. Hasilnya, Huawei terpaksa mendivestasi bisnis server dan sebagian unit smartphone-nya, serta menunda peluncuran jaringan 5G China karena kekurangan chip.
#5: Kemenangan Eskalasi Dominasi
Serangan terhadap Huawei diikuti oleh daftar hitam (blacklist) terhadap entitas lain seperti Sugon dan Phytium (pembuat superkomputer militer China) serta blokir penjualan alat EUV ASML ke China.
Yang mengejutkan, China tidak melakukan pembalasan berarti (seperti memblokir Apple atau Qualcomm). Beijing tampaknya menyadari bahwa mereka kalah dalam "dominasi eskalasi" (escalation dominance); membalas AS hanya akan memperburuk kerusakan pada industri teknologi mereka sendiri yang masih sangat bergantung pada impor. Seperti kata seorang mantan pejabat AS: "Weaponized interdependence, it’s a beautiful thing."