Fujian Jinhua

Chip War 
Bab 50
Fujian Jinhua

#1: Pencurian Resep Rahasia Micron (2015 - 2016)
Pada tahun 2015-2016, Kenny Wang, seorang manajer di fasilitas Micron di Taiwan, secara sistematis mengunduh 900 file rahasia berlabel "Micron Confidential". File-file ini berisi "resep rahasia" DRAM Micron—termasuk tata letak chip dan data hasil tes—yang bernilai ratusan juta dolar dan butuh bertahun-tahun untuk dikembangkan.

Pencurian ini didalangi oleh UMC (perusahaan Taiwan yang tidak ahli dalam DRAM) yang bekerja sama dengan Fujian Jinhua (perusahaan China yang disubsidi negara sebesar $5 miliar). UMC menjanjikan teknologi DRAM kepada Jinhua meskipun mereka tidak memilikinya, sehingga mereka merekrut mantan karyawan Micron seperti Steven Chen dan J.T. Ho, yang kemudian memfasilitasi pencurian data oleh Kenny Wang.

#2: Serangan Balik Hukum di Fujian (2018)
Ketika Micron menggugat pencurian ini di Taiwan dan AS, Jinhua dan UMC melakukan serangan balik yang mengejutkan di pengadilan China. Mereka menggugat balik Micron di Provinsi Fujian—kandang Jinhua—dengan tuduhan bahwa Micron-lah yang melanggar paten mereka (paten yang ironisnya didaftarkan menggunakan teknologi curian dari Micron).

Pengadilan Fujian, yang dikenal sebagai "pengadilan kangguru", dengan cepat memenangkan perusahaan lokal dan melarang penjualan 26 produk Micron di China. Kasus serupa juga menimpa Veeco (perusahaan alat chip AS), yang dilarang impor oleh pengadilan Fujian hanya dalam 9 hari kerja setelah digugat pesaing China, sebuah kecepatan yang mustahil secara hukum wajar.

#3: Perubahan Strategi Washington (2018)
Di masa lalu, CEO AS yang menghadapi situasi seperti ini akan menyerah dan membagi teknologi mereka demi akses pasar, mengetahui bahwa pemerintah AS tidak akan berbuat banyak. Namun, faksi "hawkish" di Dewan Keamanan Nasional (NSC) Trump melihat kasus Jinhua sebagai contoh sempurna dari praktik dagang curang yang harus dihentikan.

Alih-alih hanya mengeluarkan pernyataan keras, mereka memutuskan untuk menggunakan senjata yang sama seperti kasus ZTE: kontrol ekspor. Mereka menyadari bahwa Jinhua, meski disubsidi miliaran dolar, tidak bisa beroperasi tanpa peralatan manufaktur chip dari AS.

#4: Pencekikan Melalui Alat Manufaktur (Akhir 2018)
AS memobilisasi oligopoli alat manufaktur chipnya (Applied Materials, Lam Research, KLA) untuk memutus akses Jinhua.

Karena peralatan ini tidak tergantikan—dan Jepang setuju untuk tidak mengisi kekosongan tersebut—dampaknya instan dan mematikan. Setelah Jinhua membayar faktur mahal untuk alat-alat tersebut, AS melarang ekspornya. Tanpa mesin untuk memproses wafer silikon, pabrik Jinhua yang bernilai miliaran dolar menjadi besi tua dalam hitungan bulan. Perusahaan DRAM tercanggih China pun hancur, membuktikan bahwa kontrol atas "titik tersedak" (choke point) peralatan manufaktur adalah senjata geopolitik yang lebih kuat daripada subsidi negara manapun.

Leave a Comment