China’s Sputnik Moment?

Chip War 
Bab 52
China’s Sputnik Moment?

#1: Pengecualian Lockdown Wuhan (Januari - Maret 2020)
Saat Wuhan di-lockdown total pada Januari 2020 akibat COVID-19—membekukan kota berpenduduk 10 juta orang—satu fasilitas tetap beroperasi: Yangtze Memory Technologies Corporation (YMTC).

Pemerintah China mengizinkan kereta khusus membawa karyawan YMTC menembus barikade lockdown, menegaskan bahwa ambisi semikonduktor adalah prioritas nasional yang setara atau bahkan lebih tinggi daripada pengendalian pandemi. YMTC, yang didanai $24 miliar oleh Tsinghua Unigroup dan "Big Fund", adalah harapan terbesar China untuk mencapai paritas teknologi dalam memori NAND, jenis chip yang ada di setiap smartphone.

#2: Momen Sputnik dan Dana yang Sia-sia (2020)
Sanksi AS terhadap Huawei memicu "Momen Sputnik" bagi Beijing, sebuah kejutan yang mengkatalisasi dukungan negara besar-besaran untuk industri chip, jauh melampaui rencana Made in China 2025.

Namun, gelontoran dana tanpa pengawasan ini memicu penipuan epik. Kasus Wuhan Hongxin (HSMC) adalah contoh paling mencolok: didirikan oleh penipu dengan kartu nama palsu, mereka berhasil menipu pemerintah Wuhan untuk berinvestasi miliaran, membeli satu mesin litografi ASML hanya untuk pamer ke investor lain, padahal pabrik mereka hanyalah bangunan kosong yang akhirnya bangkrut sebelum memproduksi satu chip pun.

#3: Ilusi Kemandirian Total (Pipe Dream)
Meskipun Xi Jinping menunjuk "Chip Czar" Liu He untuk memimpin upaya ini, kemandirian total (autarky) tetaplah mimpi di siang bolong. Rantai pasok chip terlalu kompleks dan mahal untuk direplikasi oleh satu negara.

Sebagai contoh, meniru mesin EUV ASML membutuhkan lebih dari sekadar mencuri desain lewat spionase siber. Mesin ini memiliki laser dengan 457.329 komponen presisi dan membutuhkan akumulasi pengetahuan ("tacit knowledge") selama tiga dekade. Bahkan jika China berhasil membuat mesin EUV sendiri dalam satu dekade ke depan dengan biaya puluhan miliar dolar, teknologi itu sudah akan usang dibandingkan mesin High-NA EUV generasi berikutnya, membuat chip buatan China tidak kompetitif secara harga.

#4: Strategi Alternatif: RISC-V dan Teknologi Matang
Menyadari mustahilnya meniru rantai pasok AS/Barat, China beralih strategi ke dua area: arsitektur terbuka dan teknologi matang (lagging edge).

Perusahaan China seperti Alibaba merangkul arsitektur RISC-V (yang open-source dan dipindahkan ke Swiss agar netral secara geopolitik) untuk mengurangi ketergantungan pada x86 (Intel/AMD) dan ARM (Inggris/Softbank). Selain itu, China fokus mendominasi pasar chip logika tua (untuk mobil/IoT) dan material baru (silikon karbida untuk mobil listrik) di mana pembatasan ekspor AS tidak terlalu ketat.

#5: Proyeksi 2030: Menang Volume, Kalah Teknologi
Meskipun tertinggal dalam teknologi mutakhir, subsidi masif China diprediksi akan meningkatkan pangsa pasar fabrikasi global mereka dari 15 persen menjadi 24 persen pada 2030, melampaui volume Taiwan dan Korea Selatan.

Dengan menguasai pasar chip "komoditas" (bukan yang tercanggih), China berharap mendapatkan leverage ekonomi yang lebih besar dan mempersulit AS untuk menjatuhkan sanksi di masa depan. Seperti kata eksekutif YMTC, prioritas mereka bukan profit, melainkan "mewujudkan Impian China."

Leave a Comment