How Intel Forgot Innovation

Chip War 
Bab 41
How Intel Forgot Innovation

#1: Ilusi Keamanan dari Posisi Dominan (Awal 2010-an)
Memasuki tahun 2010-an, Intel tampak tak terkalahkan dengan anggaran R&D lebih dari $10 miliar per tahun (empat kali lipat dari TSMC). Mereka menikmati monopoli yang sangat menguntungkan di pasar PC dan pusat data (data center) berkat standar arsitektur x86.

Namun, keuntungan besar ini justru meninabobokan manajemen. Terlena dengan model bisnis terintegrasi (Integrated Device Manufacturer - IDM) yang menggabungkan desain dan manufaktur, Intel bersikeras bahwa cara mereka adalah yang terbaik. Mereka gagal melihat bahwa model foundry murni seperti TSMC—yang memproduksi volume wafer tiga kali lipat lebih banyak—memiliki kurva pembelajaran yang lebih cepat untuk menyempurnakan proses manufaktur.

#2: Kebutaan Terhadap Kecerdasan Buatan (Pertengahan 2010-an)
Ketika komputasi awan (cloud computing) meledak di pertengahan 2010-an, Intel menguasai pasar prosesor server. Namun, mereka gagal mengantisipasi pergeseran beban kerja dari komputasi umum ke Kecerdasan Buatan (AI).

Chip CPU Intel dirancang untuk melakukan kalkulasi secara serial (satu per satu), yang sangat tidak efisien untuk AI yang membutuhkan kalkulasi paralel masif. Sebaliknya, NVIDIA (perusahaan desain grafis) menemukan bahwa chip GPU mereka—yang awalnya untuk game—sangat sempurna untuk melatih algoritma AI ("melihat" banyak piksel sekaligus). Ketidakmampuan Intel beradaptasi membuat NVIDIA dan raksasa cloud (seperti Google dengan TPU) mengambil alih masa depan komputasi AI.

#3: Kegagalan Masuk Bisnis Foundry (2013 - 2018)
Di bawah CEO Brian Krzanich (2013-2018), Intel mencoba membuka pabriknya untuk pelanggan luar sebagai foundry untuk menyaingi TSMC.

Upaya ini gagal total karena benturan budaya yang parah. Berbeda dengan TSMC yang berorientasi layanan dan netral, Intel bersikap tertutup, arogan, dan memaksa pelanggan mengikuti aturan mereka. Selain itu, karena Intel mendesain chip sendiri, pelanggan potensial merasa ragu untuk memberikan desain mereka kepada pesaing. Bisnis ini ditutup setelah hanya memenangkan satu pelanggan besar, menyia-nyiakan kapasitas produksi yang berharga.

#4: Penundaan Manufaktur dan Krisis EUV (2015 - 2020)
Pukulan terakhir bagi Intel adalah kegagalan mereka sendiri dalam mengeksekusi Hukum Moore. Sejak 2015, Intel berulang kali mengumumkan penundaan pada proses manufaktur 10nm dan 7nm.

Akar masalahnya diyakini karena keterlambatan Intel mengadopsi alat EUV (yang ironisnya didanai oleh Intel sendiri di masa lalu). Pada tahun 2020, setengah dari seluruh mesin EUV di dunia terpasang di pabrik TSMC, sementara Intel baru saja mulai menggunakannya. Akibatnya, Intel kehilangan mahkota kepemimpinan proses manufaktur kepada TSMC dan Samsung.

#5: Akhir dari Kepemimpinan Amerika (2020)
Pada akhir dekade tersebut, realitas geopolitik baru terbentuk: tidak ada satupun perusahaan AS yang mampu memproduksi prosesor tercanggih.

Produksi chip paling maju di dunia kini sepenuhnya terkonsentrasi di dua perusahaan Asia—TSMC (Taiwan) dan Samsung (Korea Selatan)—yang secara geografis berada di zona konflik potensial dekat China. Intel, yang dulu menjadi benteng terakhir kemandirian teknologi AS, kini berjuang untuk sekadar tetap relevan, menempatkan keamanan nasional Amerika dalam risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Leave a Comment