The Fabless Revolution

Chip War 
Bab 36
The Fabless Revolution

#1: Pembuktian Model "Fabless" (1984)
Meskipun budaya Silicon Valley saat itu meyakini "lelaki sejati punya pabrik," Gordon Campbell dan Dado Banatao menantang dogma tersebut dengan mendirikan Chips and Technologies pada tahun 1984.

Langkah ini didasari oleh realitas finansial bahwa mendirikan pabrik (fab) membutuhkan modal ratusan juta dolar yang sulit didapat, sementara mendesain chip hanya butuh ide bagus dan modal kecil. Meskipun sempat dicemooh bukan perusahaan semikonduktor "asli", mereka membuktikan model bisnis ini berhasil dengan merancang chip grafis PC yang populer sebelum akhirnya dibeli oleh Intel, membuka jalan bagi revolusi fabless.

#2: Kelahiran Nvidia dari Denny's (1993)
Pada tahun 1993, Jensen Huang (dengan jaket kulit khasnya), Chris Malachowsky, dan Curtis Priem mendirikan Nvidia di sebuah restoran Denny's di San Jose. Mereka membidik ceruk pasar grafis 3D karena pasar mikroprosesor utama (CPU) sudah dimonopoli oleh Intel dengan arsitektur x86-nya.

Nvidia bertaruh bahwa masa depan komputasi visual bukan pada gambar 2D yang datar, melainkan rendering 3D yang kompleks untuk game. Mereka merancang Graphics Processing Unit (GPU) yang berbeda dari CPU; alih-alih melakukan satu tugas berat secara berurutan, GPU dirancang untuk melakukan ribuan kalkulasi sederhana (seperti mewarnai piksel) secara bersamaan (parallel processing).

#3: Qualcomm dan Revolusi Spektrum (Awal 1990-an)
Sementara itu, Irwin Jacobs—profesor yang dulu memprediksi masa depan chip—mendirikan Qualcomm pada 1985 dan mulai mengubah industri seluler pada awal 1990-an. Di saat industri telekomunikasi condong pada standar TDMA (Time-Division Multiple Access), Jacobs yakin pada CDMA (Code-Division Multiple Access) yang lebih rumit.

Keyakinan ini berakar pada Hukum Moore; Jacobs percaya chip akan menjadi cukup kuat untuk menjalankan algoritma rumit yang dapat memindahkan data panggilan antar frekuensi yang berbeda secara instan. Dengan menyerahkan manufaktur ke foundry seperti Samsung atau TSMC, insinyur Qualcomm bisa fokus sepenuhnya pada desain chip modem yang memadatkan lebih banyak panggilan ke dalam spektrum radio yang terbatas, menjadikan paten mereka fondasi telekomunikasi modern.

#4: Perjudian Software CUDA dan AI (2006)
Pada tahun 2006, Nvidia merilis CUDA, sebuah perangkat lunak yang memungkinkan GPU diprogram untuk keperluan umum, bukan hanya grafis. Jensen Huang menginvestasikan setidaknya $10 miliar untuk ekosistem ini—uang yang tidak akan dimilikinya jika Nvidia harus membangun pabrik sendiri.

Langkah ini diambil karena Huang menyadari potensi parallel processing untuk bidang di luar game, seperti peramal cuaca dan kimia komputasi. Tanpa disadari saat itu, keputusan ini meletakkan dasar bagi revolusi Kecerdasan Buatan (AI) modern, karena ternyata struktur GPU Nvidia adalah mesin yang sempurna untuk melatih jaringan saraf AI.

#5: Ledakan Chip Spesialis (Era 2000-an)
Model fabless memicu ledakan kategori chip baru yang tidak mungkin muncul jika setiap perusahaan harus membangun pabrik miliaran dolar. Perusahaan seperti Xilinx dan Altera memelopori FPGA (Field-Programmable Gate Arrays)—chip yang bisa diprogram ulang setelah diproduksi.

Keberhasilan perusahaan-perusahaan ini menegaskan bahwa pemisahan desain dan manufaktur (berkat TSMC) adalah kunci inovasi. Jika Nvidia atau Qualcomm harus mengelola pabrik yang rumit dan mahal ("memelihara hiu"), mereka tidak akan memiliki sumber daya atau fokus untuk menciptakan teknologi yang memungkinkan smartphone, grafis canggih, dan AI yang kita nikmati hari ini.

Leave a Comment