Chip War
Bab 26
“Weapons of Mass Destruction”: The Impact of the Offset
#1: Revolusi Teknis-Militer Ogarkov (1977 - 1984)
Marshal Nikolai Ogarkov, Kepala Staf Umum Soviet (1977–1984), memprediksi bahwa "revolusi teknis-militer" sedang terjadi, di mana sistem panduan terminal dan mesin tanpa awak akan mengubah peledak konvensional menjadi "senjata pemusnah massal."
Ogarkov menyadari bahwa keunggulan tradisional Soviet dalam jumlah tank dan pasukan ("kuantitas") menjadi tidak relevan menghadapi senjata presisi Amerika ("kualitas"). Ia memperingatkan bahwa tank-tank Soviet akan menjadi sasaran empuk bagi rudal AS yang kini jauh lebih akurat dibandingkan era Vietnam, di mana tingkat kegagalan rudal AS dulu mencapai 90 persen.
#2: Ketertinggalan "Otak" di Balik Otot Militer (Awal 1980-an)
Sementara AS telah menempatkan komputer panduan berbasis chip pada rudal Minuteman II di awal 1960-an, Soviet baru menguji teknologi serupa pada tahun 1971.
Pada awal 1980-an, ketertinggalan ini menjadi bahan lelucon di Kremlin tentang "mikroprosesor terbesar di dunia." Hal ini mencerminkan realitas strategis yang pahit: industri chip Soviet gagal mengikuti Hukum Moore, memaksa perancang senjata untuk membatasi penggunaan elektronik kompleks. Akibatnya, sistem senjata Soviet tetap "bodoh" sementara senjata Amerika menjadi "pintar," membuat strategi offset Pentagon berhasil menekan Soviet tanpa perlu menambah jumlah pasukan.
#3: Kesenjangan Akurasi dan Ancaman Serangan Pertama (Pertengahan 1980-an)
Pada pertengahan 1980-an, data menunjukkan kesenjangan akurasi yang mematikan. Rudal MX baru Amerika diperkirakan mendarat dalam radius 364 kaki dari targetnya (50 persen dari waktu), sementara rudal SS-25 Soviet yang setara rata-rata meleset hingga 1.200 kaki.
Bagi perencana militer Perang Dingin, selisih ratusan kaki ini adalah masalah hidup dan mati. Akurasi tinggi AS berarti mereka memiliki kemampuan untuk melakukan serangan pertama (first strike) yang dapat menghancurkan 98 persen ICBM Soviet di dalam silo peluncurannya, yang secara efektif melumpuhkan kemampuan balasan Soviet dan merusak keseimbangan teror nuklir.
#4: Hilangnya Kekebalan Kapal Selam (Awal 1980-an)
Pada awal 1980-an, keunggulan komputasi AS juga menghilangkan tempat persembunyian terakhir Soviet: laut dalam. AS menggunakan superkomputer Illiac IV (yang menggunakan memori semikonduktor Fairchild) untuk memproses data sensor sonar yang masif.
Kemampuan komputasi ini memungkinkan AS memecahkan pola gelombang suara yang kacau di lautan untuk melacak lokasi kapal selam nuklir Soviet. Ogarkov menyimpulkan bahwa dalam perang, aset strategis ini akan segera dihancurkan, membuat militer Soviet merasa "secara substansial inferior" meskipun memiliki ribuan hulu ledak nuklir.
#5: Kegagalan Revitalisasi Industri (1987 - Akhir 1980-an)
Meskipun pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev menyerukan "disiplin" di pusat teknologi Zelenograd pada tahun 1987, upaya mengejar ketertinggalan gagal total karena hambatan struktural. Salah satunya adalah campur tangan politik, seperti KGB yang memecat manajer pabrik semikonduktor Riga karena alasan sepele, yang menghancurkan moral dan efisiensi kerja.
Selain itu, ketiadaan pasar konsumen sipil membuat Soviet kekurangan modal riset; Jepang saja menghabiskan 8 kali lipat lebih banyak untuk investasi modal mikroelektronika dibandingkan Uni Soviet, membuat inovasi Soviet mati suri karena kekurangan dana.
#6: Isolasi dari Rantai Pasokan Global (Pertengahan 1980-an)
Upaya Soviet untuk membangun industri chip secara mandiri (autarky) terbukti mustahil melawan efisiensi rantai pasokan global Barat. Sekutu Soviet, Jerman Timur, mencoba membantu pada pertengahan 1980-an dengan optik Carl Zeiss, namun hasilnya adalah chip memori yang kurang canggih dengan harga 10 kali lipat lebih mahal daripada buatan Jepang.
Sementara perusahaan AS, Eropa, dan Jepang berbagi beban biaya R&D dan menikmati spesialisasi global, isolasi Soviet dan sekutunya memastikan mereka tidak akan pernah bisa memproduksi chip dengan skala dan kualitas yang dibutuhkan untuk menandingi kekuatan militer Amerika.