The Potato Chip King

Chip War 
Bab 21
The Potato Chip King

#1: Kebangkitan Melalui Inovasi, Bukan Replikasi
Berlawanan dengan prediksi "spiral kematian" Noyce, kebangkitan industri chip Amerika terjadi melalui transformasi radikal dan inovasi yang tak terduga. Alih-alih hanya meniru metode Jepang, perusahaan AS melakukan offshoring lebih lanjut ke Taiwan dan Korea Selatan serta mengandalkan inovasi dari startup yang agresif (scrappy).

Salah satu tokoh kunci dari turnaround mengejutkan ini adalah Jack Simplot, seorang miliarder kentang Idaho yang bahkan tidak lulus kelas 8 SD, namun memiliki naluri bisnis komoditas yang jauh lebih tajam daripada ilmuwan Silicon Valley.

#2: Awal Mula Micron yang Mustahil (1978)
Pada tahun 1978, di saat yang dianggap paling buruk untuk memulai perusahaan memori karena gempuran Jepang, si kembar Joe dan Ward Parkinson mendirikan Micron di ruang bawah tanah dokter gigi di Boise, Idaho.

Kondisi awal mereka sangat kritis: pelanggan pertama mereka bangkrut, dan raksasa Silicon Valley seperti Intel dan AMD ramai-ramai meninggalkan bisnis DRAM karena kerugian miliaran dolar. Para Parkinson membutuhkan modal, dan satu-satunya sumber dana lokal yang tersedia adalah "Mr. Spud" alias Jack Simplot, orang terkaya di Idaho yang memasok setengah kentang goreng McDonald's.

#3: Insting Bisnis Komoditas Simplot (Awal 1980-an)
Meskipun tidak mengerti transistor, Simplot menyuntikkan dana awal $1 juta ke Micron karena ia memahami satu hal yang luput dari pandangan titan teknologi: Jepang telah mengubah chip DRAM menjadi komoditas (seperti kentang).

Sebagai petani berpengalaman, Simplot tahu bahwa saat harga komoditas hancur dan pesaing bertumbangan (likuidasi) adalah waktu terbaik untuk membeli/masuk ke pasar. Sementara investor ventura Silicon Valley menyatakan bisnis memori "sudah tamat", Simplot justru melihat peluang emas untuk masuk dengan biaya rendah.

#4: Strategi "Biaya Terendah" ala Micron
Micron tidak mencoba bersaing dengan kecanggihan murni, melainkan dengan efisiensi biaya yang brutal. Ward Parkinson merancang chip DRAM yang secara fisik lebih kecil, memungkinkan Micron memuat lebih banyak chip dalam satu wafer silikon, yang secara drastis meningkatkan efisiensi manufaktur.

Mereka juga memodifikasi peralatan standar (seperti furnace) agar bisa memproses 250 wafer per muatan (standar industri hanya 150) dan menyederhanakan langkah-langkah produksi. Filosofi mereka sederhana namun mematikan: menjadi produsen dengan biaya terendah untuk produk berkualitas tinggi, prinsip yang sama yang diterapkan Simplot pada bisnis kentangnya.

#5: Etos Kerja "Blue Collar" dan Survival (Pertengahan 1980-an)
Karena berlokasi di Idaho yang terisolasi, karyawan Micron memiliki mentalitas bertahan hidup yang berbeda dari Silicon Valley; jika perusahaan bangkrut, tidak ada perusahaan teknologi lain di seberang jalan untuk melamar kerja ("game over").

Mentalitas "sweatshop" ini melahirkan disiplin biaya yang ekstrem—bahkan mematikan lampu lorong untuk hemat listrik—yang memungkinkan Micron bertahan melalui krisis di mana mereka hanya punya uang kas untuk dua minggu gaji. Sementara perusahaan lain menyerah, ketahanan Micron dan dukungan finansial Simplot membuat mereka bertahan dan akhirnya membeli operasi DRAM pesaing yang gagal (seperti milik TI).

#6: Kemenangan Amerika Lewat Kebijaksanaan Petani
Pada akhirnya, industri DRAM Amerika selamat bukan karena bantuan pemerintah atau raksasa teknologi lama, melainkan berkat kecerdikan insinyur pinggiran (backcountry) dan kearifan pasar seorang petani kentang.

Micron berhasil mengalahkan pesaing Jepang seperti Toshiba dan Fujitsu dengan memanipulasi hukum fisika dan ekonomi sekaligus, membuktikan bahwa Amerika masih bisa memimpin industri komoditas teknologi tinggi melalui inovasi proses dan efisiensi biaya yang radikal.

Leave a Comment