The Japan That Can Say No

Chip War 
Bab 20
The Japan That Can Say No

#1: Lunturnya Kekaguman Morita terhadap Amerika (1953 - 1980-an)
Pada kunjungan pertamanya di tahun 1953, pendiri Sony, Akio Morita, melihat Amerika sebagai negara yang memiliki segalanya. Namun, memasuki tahun 1980-an, pandangannya berubah drastis menjadi kritik terhadap "arogansi tertentu" dari teman-teman Amerikanya.

Perubahan sikap ini didorong oleh pengamatan Morita terhadap kemunduran Amerika yang terus-menerus—mulai dari kekalahan di Vietnam, skandal Watergate, hingga defisit perdagangan—sementara Jepang bangkit menjadi pemimpin teknologi global. Morita menyimpulkan bahwa sistem Amerika telah rusak karena terlalu sibuk "mencetak pengacara" dan mengejar keuntungan jangka pendek, sedangkan Jepang lebih sibuk "mencetak insinyur" dan fokus pada visi jangka panjang.

#2: Penerbitan Buku Kontroversial (1989)
Pada tahun 1989, Morita menerbitkan buku kumpulan esai berjudul "The Japan That Can Say No" bersama Shintaro Ishihara, seorang politisi sayap kanan yang provokatif.

Buku ini menjadi sangat kontroversial karena menyuarakan nasionalisme Jepang yang tidak lagi mau tunduk. Ishihara berargumen bahwa Jepang harus berhenti mengalah pada gertakan Amerika dan mendeklarasikan kemandirian, sebuah sentimen yang mengejutkan Washington karena datang dari sekutu dekat yang selama ini dibina melalui transfer teknologi pasca-Perang Dunia II.

#3: Ancaman "Chip Leverage" Ishihara
Bagian paling menakutkan bagi Washington bukanlah opini Morita tentang manajemen, melainkan ancaman spesifik Ishihara mengenai ketergantungan militer AS. Ishihara mencatat bahwa Jepang menguasai hampir 100 persen pangsa pasar semikonduktor 1-megabit.

Alasannya sangat strategis: Ishihara menyadari bahwa akurasi senjata nuklir dan rudal balistik AS bergantung sepenuhnya pada chip canggih buatan Jepang tersebut. Ia berspekulasi bahwa Jepang dapat mengubah keseimbangan Perang Dingin hanya dengan menjual chip canggih tersebut ke Uni Soviet, menjadikan teknologi sebagai alat kurs geopolitik terhadap Amerika.

#4: Kepanikan Washington dan Pengakuan Harold Brown (1989)
Buku tersebut memicu kemarahan dan kepanikan di AS; CIA bahkan menerjemahkan dan mengedarkannya secara tidak resmi, sementara anggota kongres memasukkannya ke dalam catatan resmi (Congressional Record).

Merespons realitas ini, mantan Menteri Pertahanan Harold Brown menulis artikel berjudul "High Tech Is Foreign Policy" pada tahun yang sama. Brown mengakui kegagalan strategi sebelumnya: AS berniat menggunakan teknologi untuk mengimbangi Soviet, tetapi tidak mengantisipasi hilangnya kepemimpinan teknologi ke tangan Jepang. Kini, kebijakan luar negeri AS tersandera karena senjata canggih mereka bergantung pada pasokan dari negara pesaing ekonomi.

#5: Prediksi "Pax Nipponica" (1987)
Kekhawatiran akan dominasi Jepang meluas ke ranah geopolitik. Pada tahun 1987, analis CIA memprediksi munculnya "Pax Nipponica", sebuah blok ekonomi dan politik Asia Timur yang dipimpin oleh Jepang.

Analisis ini didasarkan pada fakta bahwa strategi "supply chain statecraft" Amerika—yang awalnya dirancang untuk membendung komunisme dengan menciptakan lapangan kerja perakitan di Asia—justru memperkaya Jepang secara masif. Tokyo kini memegang kendali atas rantai pasokan regional, mengancam akan menggeser Amerika dari posisi preeminensi geopolitik di Asia.

Leave a Comment