“Transistor Girls”

Chip War 
Bab 10
“Transistor Girls”

#1: Trauma Serikat Buruh dan Visi Efisiensi Charlie Sporck (Pertengahan 1950-an – 1959)

Charlie Sporck adalah seorang manajer produksi yang memiliki obsesi luar biasa terhadap produktivitas. Pengalamannya di perusahaan GE pada pertengahan 1950-an membentuk karakter kepemimpinannya yang keras; saat itu, ia mencoba mengubah proses perakitan namun justru didemo oleh serikat buruh hingga mereka membakar efigie (boneka) dirinya sebagai bentuk protes. Kejadian ini membuatnya sangat anti terhadap serikat pekerja.

Pada Agustus 1959, Sporck bergabung dengan Fairchild Semiconductor. Ia segera menerapkan disiplin militer di pabrik-pabrik Silicon Valley, memastikan bahwa Hukum Moore bukan hanya soal teori fisika, tetapi soal memaksimalkan output manusia dan mesin. Ia bangga memberikan opsi saham kepada karyawan, namun sebagai gantinya, ia menuntut produktivitas yang tanpa kompromi demi menurunkan biaya produksi chip secara drastis.

#2: Feminisasi Lini Produksi dan Perubahan Aturan Imigrasi (Awal 1960-an)

Industri chip di California mulai mengandalkan tenaga kerja perempuan untuk merakit semikonduktor, mengikuti pola kerja industri pengalengan buah yang pernah mendominasi Santa Clara Valley pada tahun 1920-an. Pergeseran ini semakin diperkuat oleh kebijakan Kongres AS pada tahun 1965 yang melonggarkan aturan imigrasi, sehingga menambah pasokan tenaga kerja perempuan dari berbagai negara.

Perempuan dipilih karena alasan biaya dan fisik: mereka dibayar lebih rendah daripada pria dan jarang menuntut perbaikan kondisi kerja. Selain itu, manajer produksi percaya bahwa tangan perempuan yang lebih kecil jauh lebih efektif untuk pekerjaan rumit, seperti menempelkan chip silikon ke dudukan plastik menggunakan mikroskop, menyambungkan kabel emas tipis secara manual, hingga melakukan pengujian meteran satu per satu dengan tangan.

#3: Peluncuran Offshoring Pertama di Hong Kong (1963)

Meskipun Fairchild sudah mencari tenaga kerja murah hingga ke Maine dan reservasi Navajo di New Mexico, biaya buruh di Amerika tetap dianggap terlalu tinggi. Pendiri Fairchild, Bob Noyce, menyarankan Sporck untuk melihat pabrik radio di Hong Kong di mana upahnya hanya 25 sen per jam, yang secara kasar hanya sepersepuluh (1/10) dari upah di Amerika Serikat.

Pada 1963, Fairchild resmi menjadi pionir offshoring semikonduktor dengan menyewa bekas pabrik sandal di Hong Kong. Hasilnya sangat mengejutkan: pada tahun pertama saja, fasilitas ini mampu merakit 120 juta perangkat. Para manajer Fairchild melaporkan bahwa pekerja perempuan di Hong Kong bekerja dua kali lebih cepat dibandingkan pekerja Amerika dan jauh lebih toleran terhadap pekerjaan yang repetitif dan monoton di bawah mikroskop.

#4: Perbandingan Upah dan Ekspansi Agresif ke Asia (Pertengahan 1960-an)

Melihat kesuksesan di Hong Kong, Sporck terus mencari lokasi dengan biaya yang lebih rendah lagi untuk menjaga keunggulan kompetitif. Dalam waktu singkat, industri semikonduktor mulai memetakan biaya buruh di seluruh Asia untuk mencari margin keuntungan yang paling tipis.

Berikut adalah perbandingan tarif upah per jam yang dihadapi Sporck saat itu:

+----------------+---------------------+
| Lokasi Negara | Upah per Jam (USD) |
+----------------+---------------------+
| Amerika Serikat| $2,50 (rata-rata) |
| Hong Kong | $0,25 |
| Taiwan | $0,19 |
| Malaysia | $0,15 |
| Singapura | $0,11 |
| Korea Selatan | $0,10 |
+----------------+---------------------+

Setelah Hong Kong, Sporck membawa Fairchild ke Singapura di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew, yang saat itu telah melarang aktivitas serikat buruh, dan kemudian membuka fasilitas besar di Penang, Malaysia.

#5: Globalisasi sebagai Benteng Kapitalisme (Akhir 1960-an – 1970-an)

Dalam kurun waktu sepuluh tahun sejak 1963, hampir seluruh produsen chip Amerika seperti Texas Instruments dan Motorola telah memindahkan fasilitas perakitan mereka ke luar negeri. Meskipun para ahli strategi di Washington awalnya khawatir etnis Tionghoa di Asia Tenggara akan terpapar subversi komunis Mao Zedong, para eksekutif chip justru melihat mereka sebagai "mimpi para kapitalis".

Pemindahan ini menciptakan rantai pasok global yang berpusat di Asia jauh sebelum istilah "globalisasi" populer. Bagi manajer seperti Sporck, keputusan ini murni soal efisiensi; jika pekerja di Maine harganya sama dengan di Asia, ia akan tetap di Maine. Namun, ketersediaan jutaan tenaga kerja di Asia yang produktif dan bebas dari gangguan serikat buruh telah meletakkan pondasi bagi ekosistem teknologi dunia yang kita kenal sekarang.

Leave a Comment