Chip War
Bab 5
Mortars and Mass Production
#1: Penemuan Fotolitografi: Mencetak dengan Cahaya (1957 - 1958)
Jay Lathrop memulai hari pertamanya di Texas Instruments (TI) pada 1 September 1958. Sebelumnya, ia bekerja di laboratorium pemerintah AS membuat sekring jarak dekat untuk peluru mortir 81mm. Saat itu, tantangan utamanya adalah membuat transistor kecil secara presisi yang sulit dilakukan dengan metode "lilin" manual.
Lathrop menemukan ide revolusioner: membalikkan mikroskop agar fungsinya berubah dari membesarkan objek kecil menjadi mengecilkan pola besar. Dengan menggunakan bahan kimia photoresist dari Kodak yang peka cahaya, ia bisa "mencetak" pola sirkuit ke atas germanium menggunakan cahaya.
Ia menamai proses ini Photolithography (mencetak dengan cahaya) dan mengajukan paten pada tahun 1957. Angkatan Darat memberinya bonus $25.000, namun Pat Haggerty (bos TI) menyadari nilai penemuan ini jauh lebih besar: ini adalah kunci produksi massal chip.
#2: Tantangan Standardisasi dan "Human Computer" di TI
Untuk memproduksi chip Minuteman dan Apollo secara massal, TI harus melakukan standardisasi total. Mereka memurnikan bahan kimia sendiri, membuat masker cetak sendiri, dan memproduksi wafer silikon sendiri karena pemasok luar tidak cukup presisi.
Proses ini penuh trial and error. Insinyur produksi Mary Anne Potter bekerja siang malam menjalankan ribuan eksperimen suhu dan tekanan. Karena belum ada komputer canggih, ia menganalisis data regresi secara manual menggunakan mistar hitung (slide rule), bertindak sebagai "komputer manusia" untuk memecahkan masalah hasil produksi.
#3: Morris Chang dan Seni Meningkatkan "Yield" (1958)
Morris Chang, seorang pengungsi dari China yang lulus dari MIT, bergabung dengan TI pada tahun 1958 (tahun yang sama dengan Lathrop). Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas namun keras dan mengintimidasi bawahan.
Chang ditugaskan menangani lini produksi transistor untuk IBM yang tingkat keberhasilannya (yield) nyaris nol persen—hampir semua produk gagal dan harus dibuang.
Menggunakan pendekatan metodis dan intuisi fisika yang tajam, Chang mengutak-atik variabel suhu dan tekanan. Dalam beberapa bulan, ia berhasil menaikkan yield menjadi 25%, sebuah pencapaian luar biasa yang membuat eksekutif IBM datang berguru padanya. Karier Chang melesat hingga memimpin seluruh bisnis IC di TI.
#4: Andy Grove dan Perekrutan di Fairchild (1963)
Di Fairchild, Bob Noyce menyadari pentingnya fotolitografi dan segera merekrut rekan Lathrop. Namun, mereka butuh ahli kimia untuk menyempurnakan proses manufaktur.
Andy Grove, pengungsi Hungaria yang sedang menempuh PhD di Berkeley, melamar ke Fairchild pada tahun 1962 namun sempat ditolak dengan surat yang angkuh. Namun, setahun kemudian (1963), Gordon Moore menyadari kebutuhan mendesak akan insinyur kimia cerdas dan memanggil Grove.
Pertemuan mereka digambarkan sebagai "cinta pada pandangan pertama" secara profesional. Grove direkrut dan menghabiskan sisa hidupnya membangun industri chip bersama Noyce dan Moore, berfokus pada disiplin manufaktur yang ketat.
#5: Kemenangan Engineering atas Sains Murni
Bab ini menyimpulkan bahwa meskipun Hadiah Nobel diberikan kepada penemu teori (seperti Shockley, Bardeen, Brattain, dan Kilby), industri chip tidak dibangun hanya dengan sains murni.
Kunci sebenarnya adalah teknik manufaktur (engineering). Kemampuan untuk memproduksi massal secara andal—yang dikembangkan oleh insinyur lapangan seperti Lathrop, Chang, dan Grove melalui ribuan eksperimen—lah yang mengubah paten laboratorium menjadi industri yang mengubah dunia. Shockley gagal karena ia hanya fokus pada teori, sementara "Traitorous Eight" dan TI sukses karena mereka menguasai produksi massal.