Chip War
Bab 1
From Steel to Silicon
#1: Dampak Perang Dunia II pada Para Pionir (1944 - 1945)
Perang Dunia II digambarkan sebagai "topan baja" yang membentuk masa muda tiga tokoh kunci.
Akio Morita (Jepang) adalah insinyur angkatan laut yang nyaris dikirim ke garis depan. Saat perang berakhir pada 1945, ia mendengarkan pidato penyerahan Kaisar Hirohito sendirian untuk menghindari tekanan bunuh diri ritual.
Morris Chang menghabiskan masa remajanya sebagai pengungsi di China dan Hong Kong. Pada 1945, ia merayakan kekalahan Jepang dengan kembali ke kehidupan remaja yang santai, namun segera harus mengungsi lagi saat pasukan Komunis Mao Zedong menyerang Shanghai.
Andy Grove (Hungaria) mengalami teror ganda. Pada 1944, Nazi menginvasi Hungaria dan menargetkan warga Yahudi. Beberapa bulan kemudian, Tentara Merah Soviet masuk dan menduduki negaranya.
#2: Kemenangan Melalui Kekuatan Industri dan Atrisi (1939 - 1945)
Selama perang berlangsung, hasil akhir ditentukan oleh kapasitas output industri (war of industrial attrition).
Amerika Serikat memenangkan perang dengan mengubah kekuatan manufakturnya menjadi mesin militer. Ekonom di War Production Board mengukur kesuksesan bukan dengan teknologi canggih, melainkan tonase tembaga, baja, dan karet.
Hingga perang berakhir pada 1945, AS telah memproduksi lebih banyak alutsista dibandingkan gabungan seluruh kekuatan Poros (Axis), membuktikan bahwa kuantitas logistik adalah penentu kemenangan saat itu.
#3: Visi Masa Depan: Dari Riveter ke Elektronik (1945)
Menjelang akhir perang di tahun 1945, meskipun dunia masih didominasi baja, teknologi baru seperti roket dan bom atom mulai muncul.
Akio Morita menghabiskan bulan-bulan terakhir perang (1945) untuk mengembangkan peluru kendali pencari panas.
Meski Jepang belum berhasil memproduksinya, proyek ini memberi Morita visi bahwa masa depan militer tidak lagi bergantung pada pekerja pabrik fisik (riveter), melainkan pada senjata cerdas yang bisa "berpikir" dan melakukan kalkulasi otomatis.
#4: Evolusi dan Keterbatasan Komputasi Mekanis (Akhir 1800-an - 1930-an)
Sejarah perhitungan berkembang dari sempoa menuju "komputer manusia" (pegawai kantor). Pada akhir 1800-an dan awal 1900-an, birokrasi besar membutuhkan pasukan manusia untuk menghitung data.
Selama Great Depression (1930-an), ratusan orang dipekerjakan dalam Mathematical Tables Project untuk menghitung logaritma secara manual.
Di era perang, bom dipandu oleh kalkulator mekanis (roda gigi). Namun, akurasinya rendah; dalam kondisi tempur di atas Jerman, hanya 20% bom yang jatuh dalam radius 1.000 kaki dari target.
#5: Era Tabung Vakum dan Masalah "Debugging" (1945)
Insinyur mulai beralih ke komputasi elektrik menggunakan tabung vakum.
Pada tahun 1945, komputer ENIAC dibangun untuk Angkatan Darat AS guna menghitung lintasan artileri. Mesin ini menggunakan 18.000 tabung vakum dan memenuhi satu ruangan.
Meskipun bisa diprogram ulang, ENIAC sangat rapuh. Tabung vakum sering terbakar atau menarik serangga (ngengat) yang menyebabkan kerusakan—asal mula istilah "debugging". Diperlukan sakelar baru yang lebih kecil untuk menggantikan teknologi tahun 1945 yang boros ini.