The Art of Thinking Clearly
Bab 91
Planning Fallacy
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Planning Fallacy (Kesesatan Perencanaan).
Deskripsi Judul: "Why You Take On Too Much" (Mengapa Anda Mengambil Terlalu Banyak Tanggung Jawab).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Planning Fallacy? Ini adalah bias kognitif di mana kita secara sistematis meremehkan waktu, biaya, dan risiko yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas di masa depan, sekaligus melebih-lebihkan manfaatnya. Anehnya, meskipun kita punya pengalaman masa lalu bahwa proyek sering molor, kita tetap yakin bahwa kali ini segalanya akan berjalan sesuai rencana.
Mengapa dinamakan demikian? Istilah ini dicetuskan oleh Daniel Kahneman. Dinamakan Planning Fallacy karena kesalahan berpikir ini terjadi secara spesifik saat proses perencanaan. Meskipun kita cerdas dan berpengalaman, saat kita masuk ke mode "merencanakan", kita cenderung mengabaikan data historis (pengalaman masa lalu) dan menggantinya dengan "wishful thinking" (angan-angan) atau optimisme delusional tentang kemampuan kita sendiri.
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Epidemi Proyek)
Alasan: Bias ini menyerang semua orang, dari individu yang membuat to-do list harian hingga pemerintah yang membangun infrastruktur. Kita tidak memiliki kurva pembelajaran (learning curve) dalam hal perencanaan; kita terus-menerus optimis meski data sejarah berkata lain.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Daftar Tugas Harian (To-Do List): Berapa sering Anda menyelesaikan semua poin di daftar tugas harian Anda? Jarang sekali. Namun, setiap pagi Anda kembali menulis daftar yang sama panjangnya, yakin hari ini Anda bisa menyelesaikannya. Anda secara sistematis mengambil beban lebih dari kapasitas Anda.
- Sydney Opera House: Direncanakan selesai tahun 1963 dengan biaya $7 juta. Kenyataannya? Baru selesai tahun 1973 (molor 10 tahun) dengan biaya $102 juta (14 kali lipat dari anggaran!). Ini adalah contoh klasik optimisme perencanaan yang fatal.
- Tesis Mahasiswa (Roger Buehler): Mahasiswa diminta menetapkan dua tenggat waktu: "realistis" dan "skenario terburuk". Hasilnya: Hanya 30% yang memenuhi tenggat waktu "realistis". Rata-rata mahasiswa butuh waktu 50% lebih lama dari rencana, dan bahkan 7 hari lebih lama dari tanggal "skenario terburuk" yang mereka buat sendiri.
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Lihat "Base Rate" (Faktor Eksternal): Alih-alih melihat detail rencana Anda, lihatlah proyek serupa di masa lalu. Jika rata-rata renovasi rumah butuh 3 bulan, jangan percaya rencana kontraktor Anda yang bilang 1 bulan, tidak peduli seberapa rinci rencananya.
- Lakukan "Premortem": Sebelum memutuskan proyek, bayangkan Anda sudah berada di masa depan (satu tahun lagi) dan proyek itu gagal total. Tuliskan alasan kegagalannya. Teknik dari Gary Klein ini memaksa otak untuk melihat risiko yang biasanya disembunyikan oleh optimisme.
- Awas Perencanaan Terlalu Rinci: Jangan terjebak berpikir bahwa perencanaan mikro (step-by-step) akan menyelamatkan Anda. Itu sering kali hanya memberi ilusi kendali dan membuat Anda lupa pada faktor acak dari luar.