The Art of Thinking Clearly
Bab 80
Ambiguity Aversion
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Ambiguity Aversion (Aversi Ambiguitas).
Deskripsi Judul: "The Difference Between Risk and Uncertainty" (Perbedaan Antara Risiko dan Ketidakpastian).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Ambiguity Aversion? Ini adalah kecenderungan kognitif di mana kita lebih memilih opsi dengan probabilitas yang diketahui (Risiko) dibandingkan opsi dengan probabilitas yang tidak diketahui atau samar (Ketidakpastian). Kita tidak nyaman dengan hal yang tidak jelas, sehingga kita sering kali memaksakan perhitungan statistik pada situasi yang sebenarnya tidak bisa dihitung.
Mengapa dinamakan demikian? Fenomena ini dibuktikan melalui Paradoks Ellsberg (oleh Daniel Ellsberg). Paradoks ini menunjukkan bahwa manusia tidak logis: kita menghindari kotak dengan jumlah bola warna yang tidak diketahui, bahkan jika secara rasional pilihan itu bisa jadi lebih menguntungkan. Kita mencampuradukkan istilah "Risiko" (bisa dihitung, seperti kasino atau asuransi jiwa) dengan "Ketidakpastian" (tidak bisa dihitung, seperti ekonomi masa depan), yang berakibat fatal.
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Terikat Biologis)
Alasan: Otak kita (khususnya Amigdala) memiliki toleransi yang berbeda-beda terhadap ketidakpastian. Karena tidak ada buku teks untuk menghitung "ketidakpastian", kita cenderung memalsukan rasa aman dengan menerapkan kategori risiko (angka persentase) pada situasi yang sebenarnya ambigu dan kacau, seperti pasar saham.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Paradoks Kotak Bola (Ellsberg): Ada Kotak A (50 bola merah, 50 hitam) dan Kotak B (100 bola, komposisi merah/hitam tidak diketahui). Orang memilih Kotak A untuk bertaruh mendapatkan bola merah. Namun, anehnya, orang juga memilih Kotak A untuk bertaruh mendapatkan bola hitam. Ini tidak logis (jika Anda pikir B sedikit merah, harusnya B banyak hitam), membuktikan kita hanya membenci ketidakpastian di Kotak B.
- Medis vs. Ekonomi: Pernyataan "Risiko kematian akibat kanker 30%" adalah valid karena ada miliaran manusia dengan biologi serupa (Risiko). Namun, pernyataan "Risiko Euro runtuh 30%" adalah omong kosong karena ekonomi adalah ranah unik tanpa preseden statistik yang cukup (Ketidakpastian).
- Krisis Keuangan 2008: Kekacauan terjadi karena ahli keuangan menyamakan Credit Default Swaps (Ketidakpastian/Ambiguitas) dengan asuransi jiwa (Risiko terukur). Mereka pikir mereka bisa menghitung risiko kebangkrutan perusahaan sama akuratnya dengan menghitung tabel kematian manusia.
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Bedakan Risiko dan Ketidakpastian: Sadari bahwa Risiko hanya ada di tempat yang probabilitasnya jelas (judi koin, lotre, buku teks peluang). Hampir semua hal lain dalam hidup (karir, cinta, ekonomi) adalah Ketidakpastian.
- Toleransi Ambiguitas: Belajarlah untuk menerima ketidakjelasan. Jangan mudah percaya pada pakar yang memberikan angka persentase pasti untuk peristiwa masa depan yang kompleks (misal: "Peluang inflasi adalah x%").
- Jangan Memaksakan Statistik: Jangan mencoba menggunakan logika aktuaria (asuransi) untuk memprediksi peristiwa unik yang belum pernah terjadi sebelumnya.