The Art of Thinking Clearly
Bab 14
Hindsight Bias
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Hindsight Bias (Bias Tinjauan Masa Lalu/Bias Keadaan Mendapat).
Alias Lain: The "I told you so" phenomenon (Fenomena "Aku Kan Sudah Bilang").
Deskripsi Judul: "Mengapa Anda Harus Menulis Buku Harian" (Why You Should Keep a Diary).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Hindsight Bias? Ini adalah salah satu kesesatan berpikir yang paling umum, di mana segala sesuatu tampak jelas dan tak terelakkan (inevitable) setelah kejadian itu terjadi. Bias ini membuat kita percaya bahwa kita adalah peramal yang lebih baik daripada kemampuan asli kita, membuat kita menjadi sombong akan pengetahuan kita, dan akibatnya mengambil risiko terlalu besar.
Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Hindsight (tinjauan ke belakang) karena saat kita melihat ke belakang (in retrospect), alur kejadian yang sebenarnya terjadi tampak sebagai skenario yang paling masuk akal. Kita melupakan betapa tidak terprediksinya situasi tersebut pada saat kejadian belum berlangsung.
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Paling Dominan)
Alasan: Penulis menyebutnya sebagai "salah satu kesesatan yang paling lazim dari semuanya" (one of the most prevailing fallacies of all). Studi menunjukkan bahwa orang yang sadar akan bias ini pun tetap terjebak di dalamnya sama seperti orang lain.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Buku Harian Perang (Pendudukan Paris): Paman buyut penulis mencatat di buku hariannya pada Agustus 1940 bahwa semua orang yakin Jerman akan meninggalkan Paris di akhir tahun. Nyatanya, pendudukan berlangsung 4 tahun. Namun, buku sejarah modern menulisnya seolah-olah itu adalah strategi militer yang jelas, karena kita melihatnya dengan kacamata masa kini yang sudah tahu hasil akhirnya.
- Krisis Keuangan 2008: Pada 2007, para ahli memprediksi ekonomi akan cerah. Setahun kemudian, pasar runtuh. Tiba-tiba, para ahli yang sama bisa menjabarkan penyebab krisis dengan sangat rinci (kebijakan Greenspan, hipotek, dll) dan mengklaim bahwa alasan kehancuran itu "sangat jelas" (painfully obvious), padahal tak satu pun dari mereka memprediksinya setahun sebelumnya.
- Hubungan Asmara & Sejarah: Ketika teman putus cinta (misal: Sylvia dan Chris), orang-orang berkomentar: "Sudah kuduga akan putus, mereka terlalu berbeda." Namun jika mereka balikan, orang akan bilang: "Sudah kuduga, mereka memang mirip.". Begitu juga dengan Perang Dunia I: sekarang tampak masuk akal bahwa satu tembakan di Sarajevo memicu perang dunia, tapi saat itu terjadi (1914), ide tersebut terdengar absurd.
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Tulis Buku Harian (Jurnal): Tulislah prediksi Anda secara spesifik tentang perubahan politik, karier, berat badan, atau pasar saham. Bandingkan catatan tersebut dengan kejadian nyata di kemudian hari; Anda akan terkejut betapa buruknya kemampuan prediksi Anda.
- Baca Dokumen Asli (Bukan Buku Teks): Jangan hanya membaca buku sejarah yang berisi teori yang sudah dipadatkan. Bacalah buku harian, sejarah lisan, atau koran dari 5, 10, atau 20 tahun lalu. Ini akan memberi Anda gambaran betapa tidak terprediksinya dunia pada saat itu.
- Abaikan "Kenyamanan" Hindsight: Sadarilah bahwa tinjauan masa lalu (hindsight) mungkin memberikan kenyamanan sementara bagi mereka yang kewalahan oleh kompleksitas, tetapi tidak memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana dunia sebenarnya bekerja.