🚀 Codex vs. Claude Code (Today)


Tanggal artikel: 22 Desember 2025

📝 Deskripsi Ringkas
Artikel ini membandingkan dua alat coding AI super cerdas, Codex (dari OpenAI) dan Claude Code (dari Anthropic), berdasarkan pengalaman penulis. Fokusnya bukan pada siapa yang "lebih baik" secara mutlak, melainkan bagaimana masing-masing alat melayani gaya kerja yang berbeda: Codex untuk hasil otonom berkualitas tinggi yang minim intervensi, dan Claude Code untuk pengalaman engineering yang interaktif dan dapat dikustomisasi.

1. ⚠️ Problem Statement
Gaya Kerja Berbeda: Sama seperti preferensi bahasa pemrograman (Python vs TypeScript), setiap pengembang memiliki cara kerja unik yang mempengaruhi pilihan alat AI mereka.

Perubahan Cepat: Lanskap alat AI berubah sangat cepat sehingga validitas perbandingan ini mungkin hanya bertahan 3-6 bulan.

Kelelahan Konfigurasi: Insinyur sering terjebak menghabiskan waktu berlebihan untuk mengonfigurasi alat ("turning knobs") alih-alih fokus pada hasil, sebuah jebakan yang relevan dalam memilih alat AI.

2. 🛠️ Solusi / Approach
Penulis menyarankan pendekatan pragmatis dalam memilih alat:

Codex untuk Otonomi: Gunakan Codex jika Anda lebih suka memberikan instruksi prompt yang detail (30 menit - 2 jam), lalu membiarkannya bekerja sendiri selama 15-20 menit sambil Anda beralih konteks ke tugas lain.

Claude Code untuk Interaksi: Gunakan Claude Code jika Anda menikmati proses "hands-on", mengonfigurasi lingkungan (Skill, Agents, MCP), dan berdialog intens dengan AI untuk memandu pengembangan langkah demi langkah.

Delegasi Tugas: Gunakan Claude Code sebagai "komputer" serbaguna untuk tugas non-coding seperti transkripsi video, pembuatan palet warna, atau prototyping cepat ide blog.

3. 📊 Findings / Results / Impact
Kualitas vs. Kontrol: Model terbaru OpenAI (Codex) dinilai memberikan hasil yang lebih baik dengan intervensi manusia yang lebih sedikit (hands-off). Sebaliknya, Claude Code memberikan rasa "melakukan engineering" yang disukai insinyur karena banyaknya opsi konfigurasi dan interaksi.

Produktivitas: Penulis merasa lebih produktif dengan Codex karena bisa melakukan multi-tasking (desain di Figma, menulis newsletter) saat Codex bekerja, daripada harus terus-menerus memantau dan memandu Claude Code.

Fitur Unggulan: Fitur "Plan Mode" Claude dipuji, meskipun penulis berpendapat bahwa bekerja dengan Codex pada dasarnya selalu terasa seperti "Plan Mode".

4. ⚙️ How to Implement (General Pattern)
Coba Keduanya: Jangan hanya percaya pada ulasan; cobalah alat yang tidak biasa Anda gunakan selama satu minggu. Pengguna Claude coba Codex, dan sebaliknya.

Sesuaikan dengan Alur Kerja: Pilih alat yang mendukung cara Anda bekerja, bukan memaksa diri Anda mengubah cara kerja demi alat.

Investasi Konteks: Untuk hasil terbaik dengan Codex, investasikan waktu di awal untuk context engineering dan context plumbing agar AI memiliki semua informasi yang dibutuhkan untuk bekerja mandiri.

5. 💡 Key Takeaways
Superhuman Developers: Kedua alat ini sudah mencapai level kemampuan yang melampaui manusia dalam beberapa aspek, sering kali menemukan solusi dengan cara yang "asing" (alien) bagi pemikiran coding tradisional.

Engineering Satisfaction: Claude Code memenangkan hati banyak insinyur karena memberikan kepuasan tinkering dan kontrol granular, meskipun Codex mungkin lebih efisien secara hasil murni.

Tidak Ada Pilihan Salah: Kedua alat memiliki kekuatan masing-masing; kuncinya adalah menemukan mana yang paling "klik" dengan gaya kognitif dan preferensi kerja Anda.

🗣️ Apakah Anda tipe "set and forget" yang lebih cocok dengan Codex, atau tipe "tinkerer" yang menikmati dialog interaktif dengan Claude Code? Sudahkah Anda mencoba menukar alat harian Anda minggu ini?

Sumber:
https://build.ms/2025/12/22/codex-vs-claude-code-today/

🏷️ #AICoding #Codex #ClaudeCode #SoftwareEngineering #DeveloperTools #OpenAI #Anthropic #Productivity #TechReview #FutureOfWork

Leave a Comment