Yes! 50 Scientifically Proven Ways to be Persuasive
Bab 11 Why should restaurants ditch their baskets of mints?
Personalized Reciprocity (Tiga Kunci Resiprositas)
1. Problem
Banyak restoran meletakkan keranjang permen mint di dekat pintu keluar agar pelanggan bisa mengambilnya sendiri saat pulang. Meskipun niatnya baik (menyegarkan napas), cara ini sebenarnya membuang peluang emas. Ketika pelanggan mengambil permen sendiri, mereka menganggapnya sebagai hak atau fasilitas umum, bukan sebagai kebaikan hati pelayan. Akibatnya, hal itu tidak berdampak apa pun pada jumlah uang tip yang diberikan.
2. Prinsip Psikologis
The Norm of Reciprocity (Norma Timbal Balik). Agar sebuah pemberian memicu keinginan kuat untuk membalas budi (dalam bentuk tip atau loyalitas), pemberian tersebut tidak boleh terasa seperti prosedur standar (SOP). Pemberian itu harus memenuhi tiga kriteria:
- Significant (Berarti/Cukup signifikan bagi penerima).
- Unexpected (Tidak terduga).
- Personalized (Terasa personal/khusus untuk mereka).
3. Bukti Penelitian
Ilmuwan perilaku David Strohmetz melakukan eksperimen pemberian permen oleh pelayan restoran saat menyerahkan tagihan:
Skenario 1 (1 Permen): Pelayan memberi 1 permen per orang. Tip naik 3,3%.
Skenario 2 (2 Permen): Pelayan memberi 2 permen per orang. Tip naik 14,1% (Faktor Significance).
Skenario 3 (1 + 1 Permen): Pelayan memberi 1 permen, berbalik pergi, lalu berhenti seolah-olah berubah pikiran, kembali lagi ke meja dan berkata, "Oh, untuk kalian yang sangat ramah, ini ada permen ekstra," sambil menaruh permen kedua.
Hasil: Tip melonjak naik 23%.
Analisis: Lonjakan ini terjadi karena pemberian kedua terasa tak terduga dan personal ("Khusus untuk kalian"), bukan sekadar robot yang membagi permen.
4. Lima contoh penerapan taktis dalam kehidupan sehari-hari
Teknik "Oh, Satu Lagi" (Sales/Negosiasi): Saat memberikan penawaran atau bonus, jangan berikan semuanya sekaligus di awal (karena akan dianggap paket standar). Berikan penawaran standar dulu. Di akhir pembicaraan, katakan: "Saya sangat menikmati diskusi kita. Begini saja, saya akan tambahkan bonus X khusus untuk Anda." Bonus tambahan yang "mendadak" ini terasa jauh lebih berharga daripada jika sudah tercantum di brosur.
Pemberian Hadiah Pasangan/Teman (The "Just Because" Gift): Memberi kado saat ulang tahun itu expected (biasa saja). Memberi makanan favorit pasangan di hari Selasa sore yang acak dengan ucapan "Tadi lihat ini dan ingat kamu," adalah unexpected dan personalized. Dampak emosionalnya jauh lebih besar daripada kado mahal di hari raya.
Layanan Pelanggan (Informasi Eksklusif): Jangan hanya memberikan informasi umum. Tarik klien Anda sedikit "mendekat" dan katakan: "Sebenarnya info ini belum rilis resmi, tapi karena Bapak pelanggan lama, saya kasih bocoran sedikit ya..." Rasa diperlakukan spesial ini mengikat loyalitas.
Bonus Karyawan/Tim: Bonus tahunan yang masuk otomatis ke rekening sering dianggap "hak". Sesekali, berikan bonus kecil (misal: voucher kopi) secara langsung ke meja karyawan dengan tulisan tangan: "Terima kasih sudah lembur kemarin." Sifatnya yang tiba-tiba dan personal membuat nilainya melampaui nominal voucher itu sendiri.
Follow-Up Email Bisnis: Setelah mengirimkan dokumen yang diminta klien, tunggu 5 menit, lalu kirim email kedua: "Oh ya, saya juga menemukan artikel studi kasus ini yang sangat relevan dengan strategi yang Bapak tanyakan tadi. Semoga membantu." Email susulan ini menunjukkan extra effort yang personal, bukan sekadar template otomatis.