When is it right to admit that you were wrong?

Yes! 50 Scientifically Proven Ways to be Persuasive 
Bab 28 When is it right to admit that you were wrong?
Internal Attribution (Kekuatan Mengakui Kesalahan Internal)

1. Problem

Ketika terjadi kegagalan atau krisis (seperti keterlambatan proyek atau penurunan profit), insting alami perusahaan atau individu adalah "bermain aman" dengan menyalahkan faktor eksternal (cuaca buruk, ekonomi lesu, atau regulasi pemerintah). Tujuannya adalah untuk melindungi reputasi dan mengalihkan kesalahan. Namun, strategi ini justru menjadi bumerang. Menyalahkan faktor luar secara tidak sadar mengirimkan sinyal bahwa Anda tidak berdaya dan tidak memiliki kendali atas nasib Anda sendiri.

2. Prinsip Psikologis

Internal Controllable Attribution (Atribusi Internal Terkendali). Mengambil tanggung jawab atas kesalahan internal ("Ini salah strategi kami") sebenarnya memancarkan KENDALI (Control).

Jika Anda menyalahkan faktor eksternal ("Ekonomi lagi buruk"), audiens menganggap Anda korban yang lemah dan tidak bisa memperbaiki keadaan (karena Anda tidak bisa mengontrol ekonomi).

Jika Anda menyalahkan faktor internal ("Kami salah prediksi pasar"), audiens menganggap Anda memiliki kendali. Jika masalahnya ada di dalam, berarti Anda bisa memperbaikinya di masa depan. Rumus Kepercayaan: Pengakuan Salah Internal + Rencana Perbaikan = Kompetensi.

3. Bukti Penelitian

Peneliti Fiona Lee melakukan studi terhadap persepsi publik dan kinerja saham:

Studi Laporan Fiktif: Peserta membaca dua versi laporan tahunan perusahaan yang merugi.

Laporan A (Menyalahkan keputusan internal): Dinilai lebih positif.

Laporan B (Menyalahkan ekonomi/eksternal): Dinilai lebih negatif.

Studi Dunia Nyata (21 Tahun Data): Menganalisis ratusan pernyataan dari 14 perusahaan selama 21 tahun.

Perusahaan yang menjelaskan kegagalan dengan menunjuk faktor internal dan terkendali memiliki harga saham yang lebih tinggi satu tahun kemudian dibandingkan perusahaan yang menyalahkan faktor eksternal.

Kasus JetBlue (2007): Saat badai salju mengacaukan ribuan penerbangan, JetBlue tidak menyalahkan cuaca (eksternal). Mereka mengakui sistem operasional mereka yang lemah (internal). Keberanian ini justru memulihkan kepercayaan publik lebih cepat.

4. Lima contoh penerapan taktis dalam kehidupan sehari-hari

Laporan Kinerja Tahunan/Kuartalan: Jika target penjualan meleset, jangan tulis: "Daya beli masyarakat sedang turun." (Anda terlihat pasrah). Tulis: "Kami kurang cepat mengantisipasi perubahan tren pasar, sehingga stok menumpuk. Strategi perbaikannya adalah..." (Anda terlihat pegang kendali).

Keterlambatan Proyek (Freelancer/Karyawan): Jika terlambat menyerahkan tugas, jangan bilang: "Internet mati seharian" atau "Klien A telat kasih data." Katakan: "Saya salah memperhitungkan alokasi waktu cadangan untuk kendala teknis. Saya akan lembur malam ini untuk mengejarnya." Klien lebih percaya pada orang yang tidak banyak alasan.

Customer Service (System Down): Saat aplikasi/website down, jangan salahkan "Pihak ketiga/Vendor server". Katakan: "Tim kami menemukan celah dalam protokol pemeliharaan rutin kami. Kami sedang memperbaikinya agar tidak terulang." Pengguna merasa lebih aman karena Anda tahu letak masalahnya dan sedang memperbaikinya.

Wawancara Kerja (Membahas Kegagalan): Saat ditanya tentang kegagalan terbesar, jangan menyalahkan bos lama atau tim yang toksik. "Proyek itu gagal karena saya kurang tegas dalam memimpin komunikasi tim di awal. Dari situ saya belajar membuat protokol komunikasi yang lebih ketat." Ini menunjukkan kedewasaan dan kemampuan belajar.

Permintaan Maaf Pribadi: Jika Anda datang terlambat janji temu, hindari "Macet banget tadi" (Eksternal, semua orang juga tahu jalanan macet). Gunakan: "Maaf, saya kurang awal berangkatnya mengingat jam sibuk." Teman Anda akan lebih respek karena Anda tidak menjadikan situasi sebagai kambing hitam.

Leave a Comment