Yes! 50 Scientifically Proven Ways to be Persuasive
Bab 23 What’s the hidden danger of being the brightest person in the room?
Collaborative Intelligence (Kecerdasan Kolaboratif)
1. Problem
Banyak pemimpin atau ahli merasa bahwa karena mereka adalah orang yang paling pintar, berpengalaman, atau paling berkualifikasi di dalam ruangan, mereka harus memecahkan masalah sendirian. Mereka merasa meminta masukan dari bawahan atau orang yang "kurang pintar" hanya akan membuang waktu. Sikap arogan intelektual ini sering kali justru menjadi penyebab kegagalan fatal.
2. Prinsip Psikologis
The Trap of the Smartest Person (Jebakan Orang Terpintar). Menjadi orang terpintar di ruangan adalah bahaya jika hal itu membuat Anda berhenti mencari perspektif lain. Penemuan hebat jarang terjadi dalam isolasi.
Keterbatasan Pemrosesan Serial: Sendirian, otak sejenius apa pun hanya bisa memproses satu hal pada satu waktu (serial).
Kekuatan Pemrosesan Paralel: Tim bisa memproses banyak aspek masalah secara bersamaan (paralel). Kecerdasan kolektif sebuah tim yang kooperatif terbukti mengalahkan kecerdasan individu terbaik sekalipun.
3. Bukti Penelitian
Studi Kasus Penemuan DNA: James Watson (pemenang Nobel) mengakui bahwa dia dan Francis Crick berhasil menemukan struktur DNA justru karena mereka bukan ilmuwan terpintar saat itu. Ilmuwan yang paling jenius sebenarnya adalah Rosalind Franklin. Namun, karena Rosalind terlalu pintar, dia jarang meminta saran dan bekerja dalam isolasi. Watson dan Crick yang merasa "kurang pintar" justru aktif berkolaborasi, berdiskusi, dan menggabungkan ide, sehingga mereka menang balapan penemuan tersebut.
Riset Patrick Laughlin: Studi menunjukkan bahwa kelompok yang bekerjasama tidak hanya menghasilkan solusi yang lebih baik daripada anggota rata-rata, tetapi juga mengalahkan pemecah masalah terbaik (orang terpintar) di dalam kelompok tersebut jika si pintar itu bekerja sendirian.
4. Lima contoh penerapan taktis dalam kehidupan sehari-hari
Aturan "Masukan Kolektif, Keputusan Tunggal": Jangan terjebak dalam "keputusan komite" (yang sering lambat dan kompromis) atau "voting". Sebaliknya, pemimpin harus mengumpulkan masukan dari seluruh tim secara agresif untuk mendapatkan perspektif beragam. Setelah semua data terkumpul, barulah pemimpin mengambil keputusan final secara otoritatif.
Teknik Pemicu Asosiasi: Sering kali, solusi jenius tidak datang langsung dari anggota tim, melainkan dipicu oleh komentar sederhana mereka. Komentar rekan kerja yang mungkin tampak "biasa saja" bisa menjadi percikan api (spark) yang menyalakan ide brilian di otak Anda. Jadi, dengarkan semua orang, bukan untuk mengambil ide mentah mereka, tapi untuk memicu kreativitas Anda sendiri.
Pemrosesan Paralel dalam Krisis: Saat menghadapi masalah mendesak (misal: krisis PR atau bug sistem), jangan jadi superhero yang mengerjakan semuanya. Delegasikan sub-masalah ke anggota tim berbeda. Biarkan mereka mengerjakan bagian-bagian kecil secara paralel, sementara Anda merangkai solusinya. Ini jauh lebih cepat daripada Anda mencoba menyelesaikannya sendirian secara berurutan.
Hilangkan Budaya "Maha Tahu": Jika Anda pemimpin, jangan takut berkata "Saya tidak tahu". Pengakuan ini bukan tanda kelemahan, tapi undangan kolaborasi. Jika pemimpin selalu sok tahu, bawahan akan takut memberi masukan. Tiru Watson dan Crick: sadari keterbatasan diri untuk membuka pintu bagi keahlian orang lain.
Rapat "Bedah Ide": Sebelum meluncurkan strategi, adakan sesi di mana tim diwajibkan untuk mengkritik atau mencari celah dari ide Anda (Anda sebagai "orang terpintar"). Perspektif tim yang beragam akan menemukan blindspot (titik buta) yang tidak mungkin terlihat oleh satu pasang mata, sejenius apa pun mata itu.