War Hero

Chip War 
Bab 27
War Hero

#1: Awal Perang Teluk dan Serangan Presisi (17 Januari 1991)
Pada pagi hari tanggal 17 Januari 1991, gelombang pertama pembom siluman F-117 Amerika memulai Perang Teluk dengan serangan yang menandai era baru peperangan: mengandalkan "senjata jarak jauh" (stand-off weapons) untuk meminimalkan kontak langsung.

Jenderal Norman Schwarzkopf - komandan lapangan Perang Teluk US - memerintahkan serangan bedah terhadap gedung sentral telepon Baghdad menggunakan dua bom Paveway seberat 2.000 pon dan 116 rudal jelajah Tomahawk yang ditembakkan secara bersamaan. Kehancuran target yang seketika mematikan siaran CNN ini membuktikan keberhasilan strategi "pemenggalan kepala" (decapitation strategy) untuk melumpuhkan komunikasi dan komando Irak sebelum pasukan darat bergerak.

#2: Evolusi Paveway: Dari Vietnam ke Baghdad (1972 - 1991)
Meskipun terlihat futuristik di layar TV, teknologi bom pintar Paveway sebenarnya berakar dari Perang Vietnam tahun 1972. Namun, Texas Instruments melakukan pembaruan terus-menerus sepanjang tahun 1970-an dan 1980-an untuk mengganti sirkuit lama dengan elektronik canggih yang lebih andal dan murah.

Keberhasilan Paveway di Perang Teluk didasari oleh prinsip ekonomi yang sama dengan mikroprosesor Intel: produksi massal menurunkan biaya. Karena harganya murah (seperti mobil bekas/jalopy), militer bisa melatih setiap pilot menggunakannya, menjadikan serangan presisi sebagai kemampuan standar yang tersedia luas, bukan lagi senjata khusus yang jarang dipakai.

#3: Statistik Kemenangan Silikon (Pasca-Perang 1991)
Dominasi teknologi chip dalam perang terbukti melalui statistik yang mencengangkan. Studi Angkatan Udara pasca-perang menemukan bahwa pesawat yang menggunakan panduan laser mengenai sasaran 13 kali lebih banyak dibandingkan pesawat dengan amunisi tanpa panduan.

Peningkatan akurasi ini juga terlihat pada rudal udara-ke-udara Sidewinder; berkat pembaruan sistem panduan berbasis semikonduktor, rudal ini terbukti 6 kali lebih akurat di Perang Teluk dibandingkan pendahulunya di Vietnam. Seorang perwira Angkatan Udara bahkan memperkirakan bahwa ada 10.000 tentara Amerika yang selamat dari maut berkat keunggulan teknologi yang diciptakan oleh para insinyur seperti Weldon Word.

#4: Validasi Total "Offset Strategy" (1991)
Perang Teluk berfungsi sebagai validasi akhir bagi "Offset Strategy" Bill Perry - Arsitek visioner yang menjembatani Silicon Valley dengan Pentagon, mengubah keunggulan mikroelektronika komersial menjadi dominasi militer Amerika melalui senjata cerdas - yang dirancang pasca-Vietnam. Keraguan publik dan skeptisisme militer tentang "medan perang otomatis" sirna seketika melihat ketidakberdayaan militer Irak—yang menggunakan peralatan terbaik Soviet—menghadapi serangan AS.

Media massa segera menobatkan fenomena ini sebagai "kemenangan silikon atas baja" (triumph of silicon over steel). Judul utama surat kabar bahkan menulis "Status Pahlawan Perang Mungkin Diberikan pada Chip Komputer," mengakui bahwa senjata berbasis informasi kini lebih menentukan daripada volume daya tembak konvensional.

#5: Guncangan Psikologis di Moskow (1991)
Dampak strategis dari bom pintar AS terasa sangat kuat di Moskow. Para pemimpin militer Soviet, seperti Menteri Pertahanan Dmitri Yazov dan Marshal Sergey Akhromeyev, merasa malu dan gugup karena prediksi mereka tentang perang yang berlarut-larut dipatahkan oleh kekalahan cepat Irak.

Tayangan CNN yang memperlihatkan bom memandu dirinya sendiri masuk ke gedung-gedung Irak menjadi bukti visual tak terbantahkan bahwa prediksi Marshal Ogarkov benar: revolusi teknis-militer telah tiba, dan Uni Soviet—dengan sistem pertahanannya yang usang—berada di pihak yang kalah dalam perjuangan teknologi ini.

Leave a Comment