ASML's Architects
Bab 60
Turbo Mode Engaged
#1: Cetak Biru dan Stigma "Anak Bau Kencur"
Richard George membuat sketsa awal mesin modular. Namun, proyek ini terhambat oleh keraguan eksternal dan internal.
- Skeptisisme Pasar: Bukan hanya manajemen (Wim Troost), tetapi pelanggan juga berkomentar bahwa Martin van den Brink dan Frits van Hout terlihat "terlalu muda" (greenhorns).
- Latar Belakang: Pelanggan meremehkan mereka karena latar belakang pendidikan mereka (pemanas kota dan fisika suhu rendah) dianggap tidak relevan dengan litografi canggih. Namun, karena tidak ada manajer senior yang mau mengambil pekerjaan itu, ASML terpaksa memakai "anak-anak" ini.
#2: Kepanikan Wafer 8-Inci dan "Mode Turbo"
Pemicu utama percepatan proyek adalah ketakutan tertinggal pasar.
- SEMICON West 1989: Dick Aurelio menemukan bahwa raksasa (IBM, Intel, Motorola, NEC) beralih ke wafer 8-inci.
- Posisi Terbawah: Dataquest menempatkan ASML di peringkat 4 (pangsa pasar 6%), jauh di bawah Nikon (53%).
- Instruksi Polak: Evert Polak memerintahkan "Mode Turbo" untuk menyelesaikan mesin dalam 2 tahun—jadwal yang tidak masuk akal untuk pengembangan dari nol.
#3: Isolasi di Zwaga & Partners (Lego Stepper)
Martin van den Brink mengisolasi diri bersama tim kecil selama hampir 100 hari.
- Lokasi: Mereka menyewa ruang rapat di firma akuntan Zwaga and Partners di seberang jalan untuk menghindari gangguan harian.
- Konsep Lego: Hasilnya adalah mesin modular. Keuntungan utamanya bukan hanya perakitan, tapi upgradability. Pelanggan bisa mengganti modul lensa untuk meningkatkan resolusi tanpa membuang seluruh mesin. Ini nilai jual ekonomis yang besar.
#4: Pertarungan Teknologi dan Intervensi HP
Pengembangan teknis melibatkan pertarungan ide dan bantuan eksternal.
- Dilema Meja Wafer: Martin mengadu dua ide: H-Stage (CFT/Jan van Eijk) vs Long-stroke (Natlab/Gerard van Engelen). Martin memilih H-Stage yang lebih aman (evolusi) daripada risiko teknologi baru Natlab.
- Peran Hewlett-Packard (HP): ASML tidak bekerja sendiri. Mereka meminta HP mengembangkan interferometer khusus untuk mengukur posisi meja dengan 5 derajat kebebasan secara real-time.
- Analogi Lapangan Bola: Tantangannya adalah meratakan lapisan photoresist setebal 1 mikron di atas bidang 22mm. Ini diibaratkan seperti meratakan lapangan sepak bola dengan presisi 1 milimeter.
#5: 50 Orang Klaassen dan Era Digital
Klaassen memimpin tim meja wafer dengan tuntutan tinggi.
- SDM: Ia menuntut 50 insinyur (1/6 kapasitas R&D). Martin awalnya menolak keras, tapi menyerah pada data.
- Revolusi Software: Kunci presisi PAS 5500 adalah peralihan dari analog ke digital. Ini memungkinkan optimasi dan koreksi dilakukan lewat perangkat lunak, membuat mesin jauh lebih stabil dan prediktif.
#6: Tragedi Micro-Controle (Bencana Outsourcing)
Kisah outsourcing ke Prancis lebih tragis dan kacau dari sekadar kegagalan teknis.
- Intervensi Paris: Martin dan Polak terbang ke Paris pada hari Sabtu untuk membatalkan kontrak. ASML membayar $700.000 untuk memutus kontrak dan mengambil hak intelektual.
- Keras Kepala Berujung Maut: Meskipun kontrak diputus, Micro-Controle tetap melanjutkan produksi dengan harapan ASML akan berubah pikiran.
- Akhir Tragis: Saat mereka menagih pesanan pada tahun 1992, Klaassen memberi tahu bahwa ASML tidak pernah memesan secara resmi. Micro-Controle, yang sudah investasi besar-besaran untuk produksi tanpa pesanan, akhirnya bangkrut.
- Dampak di IBM: Mesin pertama di IBM menggunakan sisa prototipe Prancis yang buruk, menyebabkan mesin mati setiap 7 menit. Klaassen harus bekerja keras membereskan kekacauan ini dengan mitra baru (CCM dan Philips).