Chip War
Bab 9
The Transistor Salesman
#1: Pendirian Sony dan Awal Pemulihan Jepang (April 1946 – 1948)
Setelah kekalahan Jepang yang menghancurkan di Perang Dunia II, Akio Morita dan Masaru Ibuka bermitra untuk mendirikan sebuah bisnis elektronik yang nantinya dikenal sebagai Sony pada April 1946. Di tengah reruntuhan Tokyo, mereka mencoba membuat berbagai alat, termasuk penanak nasi listrik yang gagal total di pasar.
Pada 1948, Morita membaca tentang penemuan transistor di Bell Labs dan segera menyadari potensi "ajaib" teknologi ini. Meskipun saat itu dunia masih bergantung pada tabung vakum yang besar dan boros energi, Morita memimpikan revolusi perangkat konsumen yang kecil dan efisien.
#2: Akses Pengetahuan dan Lisensi Teknologi (1953)
Tahun 1953 menjadi momentum krusial bagi industri semikonduktor Jepang. Berkat dukungan otoritas pendudukan AS, fisikawan Jepang seperti Makoto Kikuchi mendapatkan akses ke jurnal-jurnal ilmiah Amerika yang sebelumnya mustahil didapat. Pada September 1953, John Bardeen (penemu transistor) mengunjungi Tokyo dan disambut dengan meriah oleh ribuan orang yang ingin mengambil fotonya.
Di tahun yang sama, Akio Morita terbang ke New York untuk mendapatkan lisensi resmi transistor dari AT&T. Para eksekutif Amerika di sana bersikap skeptis dan meremehkan visi Morita; mereka memberi tahu bahwa transistor kemungkinan hanya akan berguna untuk membuat alat bantu dengar, bukan perangkat elektronik massal yang canggih.
#3: Kelahiran Radio Transistor dan Ketegangan Dagang (1959 – 1960-an)
Memasuki akhir 1950-an, Sony mulai memproduksi radio transistor dalam jumlah puluhan ribu unit. Kesuksesan ini sangat kontras dengan Texas Instruments (TI) di Amerika yang sebenarnya memiliki teknologi tersebut lebih awal namun gagal dalam pemasaran. Sony memimpin dengan prinsip: "Publik tidak tahu apa yang mungkin, tapi kami tahu."
Namun, kesuksesan ekspor Jepang memicu ketegangan. Pada 1959, Electronics Industries Association di AS mengajukan banding ke pemerintah agar membatasi impor Jepang demi "keamanan nasional". Meski begitu, Washington tetap mendukung Jepang agar tetap berada dalam aliansi Barat selama Perang Dingin, sehingga tekanan perdagangan tersebut tidak terlalu ditekan.
#4: Diplomasi "Pedagang Transistor" dan Target Ekonomi (November 1962)
Pada November 1962, Perdana Menteri Jepang Hayato Ikeda bertemu Presiden Prancis Charles de Gaulle di Istana Élysée. Ikeda membawa hadiah radio transistor Sony, namun De Gaulle meremehkannya dengan menyebut Ikeda hanya sebagai "pedagang transistor".
Di saat De Gaulle fokus pada keagungan militer tradisional, Ikeda fokus pada materialisme ekonomi dengan janji melipatgandakan pendapatan rakyat Jepang dalam 10 tahun. Berkat industri elektronik, target ambisius ini tercapai 2 tahun lebih cepat dari jadwal, membuktikan bahwa menjadi "pedagang transistor" memberikan kekuatan ekonomi yang jauh lebih besar daripada kekuatan militer lama.
#5: Era Simbiosis dan Dominasi Kalkulator (1964 – 1970-an)
Pada 1964, Jepang berhasil melampaui Amerika Serikat dalam volume produksi transistor diskrit. Terjadi simbiosis unik: AS memproduksi chip tercanggih untuk militer dan komputer besar, sementara Jepang membayar royalti besar kepada perusahaan AS—yaitu 4,5% penjualan chip ke Fairchild, 3,5% ke TI, dan 2% ke Western Electric.
Pada akhir 1960-an, persaingan bergeser ke kalkulator. Sharp Electronics dari Jepang mengambil risiko dengan memproduksi kalkulator genggam yang murah dan simpel menggunakan chip buatan California. Hasilnya, pada tahun 1970-an, hampir seluruh kalkulator yang beredar di dunia adalah buatan Jepang, sebuah pasar yang sebelumnya diabaikan oleh departemen pemasaran perusahaan-perusahaan Amerika.
#6: Penembusan Birokrasi dan Ledakan Ekspor (1965 – 1985)
Sepanjang era 1960-an, Akio Morita membantu Texas Instruments masuk ke Jepang dengan cara rahasia guna menghindari birokrasi kementerian MITI yang ketat. Morita menyuruh eksekutif TI datang incognito (menyamar) dengan nama palsu ke hotel untuk mengatur usaha patungan.
Strategi kerja sama ini memicu ledakan ekonomi yang luar biasa. Nilai ekspor elektronik Jepang melonjak tajam dari hanya $600 juta pada 1965 menjadi angka fantastis sebesar $60 miliar pada sekitar 1985. Jepang secara resmi telah bertransformasi dari negara yang hancur karena perang menjadi pusat gravitasi elektronik dunia.