Chip War
Bab 54
The Taiwan Dilemma
#1: Pertanyaan Tentang Perang yang Ditepis (Juli 2021)
Pada 15 Juli 2021, Chairman TSMC Mark Liu dengan tenang menepis pertanyaan analis tentang risiko perang China-Taiwan, menegaskan bahwa "semua orang ingin perdamaian" karena ketergantungan dunia pada pasokan chip Taiwan.
Ironisnya, keesokan harinya, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China meluncurkan latihan serangan amfibi besar-besaran dengan kendaraan lapis baja Tipe 05 yang menyerbu pantai hanya 300 km dari Pulau Pratas yang dikuasai Taiwan. Kontras ini menyoroti diskoneksi berbahaya: pasar finansial dan eksekutif teknologi berasumsi rasionalitas ekonomi akan mencegah perang, sementara militer China secara aktif berlatih untuk skenario penaklukan.
#2: Skenario Mimpi Buruk Pentagon
Pentagon mengidentifikasi berbagai cara China dapat menggunakan kekuatan militer, mulai dari blokade parsial (memeriksa kapal kargo) hingga invasi skala penuh ala D-Day.
Skenario "Zona Abu-abu" (seperti merebut Pulau Pratas tanpa tembakan) atau blokade adalah yang paling mungkin terjadi karena menempatkan AS dalam posisi sulit: apakah layak memulai Perang Dunia III demi sebuah atoll kecil atau demi mempertahankan prinsip kebebasan navigasi? Jika AS tidak bertindak, moral Taiwan akan hancur; jika AS bertindak, eskalasi nuklir menjadi risiko nyata.
#3: Keruntuhan "Silicon Shield" dan Ekonomi Global
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menyebut industri chipnya sebagai "Perisai Silikon" yang melindungi pulau itu dari agresi karena dunia tidak bisa membiarkannya hancur. Namun, konsentrasi produksi ini juga merupakan risiko sistemik global.
Jika pabrik TSMC hancur (akibat perang atau sabotase), dunia akan kehilangan 37 persen kapasitas produksi chip logika komputasi global secara instan. Dampaknya akan menghancurkan ekonomi dunia—jauh lebih parah dari pandemi COVID-19—menghentikan produksi segala hal mulai dari iPhone, mobil, hingga pesawat terbang selama setidaknya setengah dekade. "Perisai" ini bisa berubah menjadi "bom waktu" ekonomi jika gagal mencegah invasi.
#4: Pelajaran dari Ukraina dan Kerentanan Rusia (2022)
Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menjadi peringatan keras bahwa perang penaklukan di era modern masih mungkin terjadi. Konflik ini juga mengekspos betapa lemahnya militer tanpa industri chip domestik yang kuat.
Rusia, yang industri chipnya telah membusuk sejak Perang Dingin, terpaksa menggunakan chip mesin cuci untuk sistem rudal mereka dan menghadapi kekurangan amunisi presisi hanya dalam beberapa minggu. Sanksi chip terkoordinasi dari AS, Taiwan, dan sekutu lainnya melumpuhkan kemampuan industri pertahanan Rusia, memberikan cetak biru tentang bagaimana "senjata semikonduktor" dapat digunakan dalam konflik.
#5: Risiko Perang Dingin Baru yang Lebih Mematikan
Berbeda dengan Rusia yang lemah secara teknologi, China adalah raksasa yang berinvestasi miliaran dolar dan memiliki kapasitas militer yang mampu menjangkau Taiwan dalam tujuh menit penerbangan.
Analis pemerintah China secara terbuka berargumen bahwa jika ketegangan memuncak, mereka harus "merebut TSMC." Krisis Selat Taiwan berikutnya bukan lagi sekadar sengketa teritorial atas pulau miskin seperti tahun 1950-an, melainkan pertarungan untuk menguasai "jantung digital dunia." Dan kali ini, dengan kekuatan militer yang jauh lebih besar, Beijing mungkin bertaruh bahwa mereka bisa menang.