Chip War
Bab 46
The Rise of Huawei
#1: Transformasi Paksa dari Pedagang ke Pembuat (1987 - Awal 1990-an)
Ren Zhengfei, seorang mantan insinyur militer, mendirikan Huawei di Zona Ekonomi Khusus Shenzhen pada tahun 1987 dengan modal hanya $5.000. Awalnya, perusahaan ini hanyalah importir peralatan switch telekomunikasi dari Hong Kong.
Namun, transformasi menjadi perusahaan teknologi terjadi karena keterpaksaan; ketika pemasok Hong Kong menyadari Ren mengambil keuntungan besar dan memutus pasokannya, Ren tidak punya pilihan selain mempekerjakan insinyur dan membangun peralatannya sendiri. Langkah nekat ini mengubah Huawei dari pedagang perantara menjadi produsen yang kelak menjadi tulang punggung internet seluler dunia.
#2: Mengadopsi Buku Panduan Samsung
Berbeda dengan raksasa internet China lainnya (seperti Alibaba atau Tencent) yang fokus pada dominasi pasar domestik yang terlindungi, Huawei memilih jalur globalisasi yang mirip dengan strategi Samsung.
Ren menyadari bahwa untuk menjadi raksasa sejati, Huawei harus bersaing di pasar global sejak dini. Strateginya bertumpu pada tiga pilar: membina hubungan politik untuk mendapatkan modal murah, mengidentifikasi teknologi Barat untuk diproduksi dengan biaya lebih rendah, dan bersaing tanpa henti di luar negeri untuk belajar dari perusahaan terbaik dunia.
#3: "Budaya Serigala" dan Guru IBM (1997 - 1999)
Huawei tidak hanya mengandalkan etos kerja militeristik "Budaya Serigala" (Wolf Culture)—di mana pengorbanan karyawan dianggap sebagai kewajiban tentara—tetapi juga kemauan untuk belajar dari Barat. Setelah kunjungan ke AS pada tahun 1997, Ren menyadari manajemen Huawei tertinggal jauh.
Pada tahun 1999, meskipun pendapatannya masih kecil, Huawei membayar konsultan IBM sebesar $50 juta untuk merombak total proses bisnis dan rantai pasok mereka. Kombinasi antara disiplin militer China dan efisiensi manajemen modern Barat inilah, ditambah anggaran R&D masif (selevel Google/Amazon), yang membuat Huawei jauh lebih berbahaya daripada perusahaan China yang hanya sekadar meniru ("copy it").
#4: Subsidi Negara dan Kehancuran Pesaing Barat
Pertumbuhan Huawei didorong oleh subsidi negara yang diperkirakan mencapai $75 miliar dalam bentuk tanah murah, kredit bank negara, dan insentif pajak.
Dukungan merkantilis ini memungkinkan Huawei menjual peralatan berkualitas dengan harga yang menghancurkan pesaing. Akibatnya, raksasa telekomunikasi Barat berguguran: Nortel (Kanada) bangkrut, dan Alcatel-Lucent terpaksa dijual ke Nokia, menyisakan Huawei sebagai salah satu dari tiga pemain dominan dalam infrastruktur global.
#5: Titik Balik Tsunami Fukushima (Maret 2011)
Percepatan ambisi semikonduktor Huawei dipicu oleh bencana alam. Gempa dan tsunami Jepang pada Maret 2011 menyadarkan eksekutif Huawei akan kerentanan fatal dalam rantai pasok mereka.
Setelah melakukan audit risiko pasca-bencana, konsultan internal mengidentifikasi dua titik kegagalan utama: ketergantungan pada OS Android (Google) dan chip dari Amerika. Menyadari bahwa akses ke teknologi ini bisa terputus kapan saja (baik oleh bencana atau politik), Huawei mengidentifikasi 250 chip terpenting dan memutuskan untuk mendesainnya sendiri secara internal.
#6: HiSilicon dan Ancaman bagi Desain AS
Keputusan tahun 2011 tersebut melahirkan unit desain chip HiSilicon yang sangat kapabel. Pada akhir dekade 2010-an, HiSilicon telah menjadi pelanggan terbesar kedua TSMC, mampu merancang prosesor smartphone dan chip 5G yang menyaingi Apple dan Qualcomm.
Bukti paling nyata dari kemampuan HiSilicon menantang dominasi teknologi Amerika terlihat pada seri Kirin, yang menjadi otak di balik kesuksesan ponsel pintar Huawei. Chip seperti Kirin 980 dan puncaknya pada Kirin 9000 (5nm) bukan sekadar produk tiruan, melainkan inovasi yang sering kali meluncur lebih dulu dibanding pesaingnya. Dengan mengintegrasikan modem 5G canggih dan unit pemrosesan saraf (NPU) yang kuat, Kirin memungkinkan perangkat flagship seperti Huawei Mate 40 Pro dan P50 Pro bersaing head-to-head—bahkan mengungguli—efisiensi dan performa chip Snapdragon milik Qualcomm maupun A-Series milik Apple sebelum sanksi diberlakukan.
Namun, ambisi Huawei melampaui sekadar gawai konsumen; mereka menargetkan jantung infrastruktur digital melalui seri Kunpeng dan Ascend. Seri Kunpeng 920, prosesor berbasis ARM dengan 64-core, dirancang khusus untuk server dan big data, yang secara langsung menantang monopoli Intel Xeon di pusat data. Di sisi lain, seri Ascend 910 diposisikan untuk mematahkan dominasi Nvidia dalam pelatihan kecerdasan buatan (AI), memberikan China kemampuan mandiri untuk melatih algoritma kompleks tanpa bergantung pada perangkat keras AS. Ambisi konektivitas ini disempurnakan oleh chip modem Balong 5000, yang menjadi standar emas dalam kecepatan jaringan 5G.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa Huawei telah berhasil naik kelas dari sekadar perakit infrastruktur menjadi inovator "teknologi inti". Kemampuan Huawei untuk merancang chip tercanggih secara mandiri menjadi ancaman strategis bagi AS, karena mematahkan monopoli desain chip Amerika dan menempatkan China di posisi unggul dalam era 5G.
Ironisnya, kecanggihan desain inilah yang menjadikan HiSilicon target utama dalam perang chip. Meskipun Huawei mampu mendesain arsitektur chip yang setara atau lebih baik dari raksasa Silicon Valley, seluruh jajaran produk ini—mulai dari Kirin hingga Ascend—sangat bergantung pada pabrik TSMC di Taiwan untuk fabrikasi fisiknya. Ketika AS memutus akses Huawei ke TSMC, desain-desain jenius HiSilicon kehilangan satu-satunya jalan untuk diproduksi secara massal dengan teknologi mutakhir, menyisakan Huawei dengan "otak" yang brilian namun tanpa "tubuh" fisik untuk mewujudkannya di pasar global. Inilah mengapa sanksi AS sangat mematikan: AS melarang TSMC memproduksi chip desain HiSilicon. Tanpa pabrik TSMC, HiSilicon memiliki desain jenius (seperti Kirin 9000) tetapi tidak memiliki cara fisik untuk memproduksinya, sampai akhirnya SMIC (pabrik China) mulai mencoba memproduksinya baru-baru ini dengan teknologi yang lebih terbatas.