The Reunion

ASML's Architects 
Bab 23
The Reunion

#1: Situasi Moral dan Julukan "Leveraged Die-Out" (Musim Semi 1984)

Pada musim semi 1984, 47 karyawan Philips yang dipilih Wim Troost untuk dipindahkan ke usaha patungan baru (ASML) merasa tidak memiliki harapan. Mereka merasa dibuang oleh Philips. Istilah sinis yang beredar di antara mereka adalah "Leveraged Die-Out" (plesetan dari Leveraged Buy-Out), sebuah spin-off yang dirancang untuk bangkrut agar Philips bisa menyingkirkan beban karyawan tanpa memecat mereka secara langsung.

Kondisi pasar sangat menekan: GCA memimpin dengan ratusan mesin, Nikon mengejar cepat, sementara pangsa pasar ASML adalah 0%. Mereka hanya memiliki satu karyawan dari ASM, 17 mesin yang tidak bisa dijual, dan citra yang buruk.

#2: Laporan Menohok Analis Rick Ruddell (Awal 1980-an - 1983)

Analis pasar ternama Rick Ruddell, yang pada tahun 1970-an memuji semangat perintis Natlab, berbalik menjadi kritikus tajam. Dalam laporan industri tahun 1983, ia menjadikan Philips bahan tertawaan. Ia menulis bahwa Philips tidak pernah mampu memberikan dukungan penjualan yang layak untuk sistemnya.

Ruddell menyindir dengan kejam: "Bayangkan, salah satu perusahaan terbesar di dunia tidak mampu mengambil langkah awal yang bahkan bisa dilakukan oleh Censor (start-up kecil Liechtenstein)." Ia menggantung Philips dengan mencantumkan daftar 31 pertanyaan survei yang diajukan, di mana Philips menjawab hampir semuanya dengan "No comment". Kesimpulannya: Philips tidak tahu apa yang mereka inginkan dengan stepper-nya.

#3: Pertemuan di Hotel Bilderberg dan Peran Joop van Kessel (Maret 1984)

Untuk mengatasi moral yang rendah, Troost mengatur pertemuan di Hotel Bilderberg. Gjalt Smit berpidato dengan penuh semangat tentang menaklukkan dunia, namun disambut dengan skeptisisme oleh para insinyur yang merasa "dibuang".

Situasi berubah berkat intervensi Joop van Kessel. Van Kessel adalah mantan kolega Smit di Italia yang sangat dihormati oleh staf teknis. Ia naik ke panggung dan memberikan jaminan pribadi: "Kalian bisa mempercayai Gjalt Smit." Dukungan dari orang dalam yang kredibel ini menjadi titik balik yang sedikit mencairkan ketegangan dan skeptisisme tim.

#4: Pengakuan Para "Letnan" di Malam Hari (Maret 1984)

Setelah pertemuan resmi, Smit segera mengumpulkan tim intinya: Joop van Kessel, Richard George, Herman van Heek, dan Ger Janssen. Dalam diskusi larut malam, mereka membuka kartu dan mengonfirmasi rumor buruk yang didengar Smit di ITT.

Mereka memperingatkan Smit: "Gjalt, kami pikir kamu gila kembali ke sini." Mereka menjelaskan bahwa pengembangan stepper macet selama dua tahun, dan Philips berada di urutan terbawah dari 10 produsen litografi dunia. Mereka menegaskan bahwa uang yang dijanjikan manajemen (De Kruiff/Troost) sering kali tidak pernah turun, dan mesin PAS 2000 dengan meja hidrolik praktis tidak bisa dijual (unsellable).

#5: Peluncuran Finansial yang Pincang (1 April 1984)

Pada hari peluncuran resmi, aset ASML terdiri dari 16 mesin PAS 2000 yang sedang dirakit dan 1 mesin demo. Philips menilai inventaris ini dan aset lainnya sebesar $1,8 juta.

Sesuai kesepakatan, Philips memotong nilai inventaris "sampah" ini dari kewajiban setoran modal awal mereka yang sebesar $2,1 juta. Akibatnya, pada 1 April 1984, Philips hanya mentransfer uang tunai sebesar $300.000 ke rekening ASML. Sebaliknya, ASM mentransfer penuh $2,1 juta beberapa hari kemudian. Dengan modal tunai yang sangat minim inilah ASML memulai operasinya.

Leave a Comment