Chip War
Bab 48
The Next Offset
#1: Bangkitnya Penantang "Byte-for-Byte" (Pasca-1991)
Kemenangan telak AS di Perang Teluk 1991—yang digambarkan sebagai "serangan nuklir psikologis" bagi Beijing—memaksa China meninggalkan doktrin "Perang Rakyat" era Mao. Sejak itu, China beralih ke peperangan berteknologi tinggi (intelligentized warfare).
Berbeda dengan Uni Soviet yang hanya bisa menandingi AS "rudal-lawan-rudal" tetapi kalah dalam komputasi, China bertekad menandingi AS "byte-lawan-byte." China mengembangkan sistem "anti-akses" (rudal anti-kapal, anti-satelit, perang siber) yang dirancang khusus untuk menetralkan keunggulan AS, sebuah strategi offset terbalik yang menggunakan konsep Pentagon sendiri untuk melawan penciptanya.
#2: Perlombaan AI dan "Triad" Buchanan (Era 2010-an - 2021)
Pada tahun 2021, laporan Eric Schmidt memprediksi China bisa melampaui AS sebagai "AI Superpower". Ben Buchanan mengidentifikasi "Triad AI": Data, Algoritma, dan Daya Komputasi.
Dalam hal Data dan Algoritma, posisi China dan AS relatif seimbang (China memiliki 29% peneliti AI top dunia vs AS 20%). Namun, dalam pilar ketiga, Daya Komputasi, AS masih unggul meskipun jaraknya menyempit. China masih sangat bergantung pada chip GPU AS (seperti Nvidia) untuk melatih AI militernya; studi memperkirakan 95 persen GPU di server AI China didesain oleh Nvidia.
#3: Strategi "Offset" Baru Pentagon: Otonomi dan Spektrum (Pertengahan 2010-an)
Menyadari keunggulan kuantitatif China (lebih banyak kapal dan rudal), pejabat Pentagon seperti Bob Work menyerukan Offset Strategy baru pada pertengahan 2010-an.
Jika offset tahun 70-an tentang mikroprosesor dan presisi, offset kali ini berfokus pada AI dan Otonomi (seperti drone bawah air Saildrone dan loyal wingman tanpa awak). Selain itu, medan pertempuran masa depan akan ditentukan di Spektrum Elektromagnetik: perang tak terlihat antar chip untuk melakukan jamming radar dan komunikasi musuh. DARPA mendanai inisiatif ini, termasuk sistem navigasi alternatif non-GPS untuk mengantisipasi serangan pada satelit.
#4: Dilema "Trusted Foundry" dan Kehilangan Pengaruh (2000-an - Sekarang)
Paradoks terbesar militer AS adalah hilangnya kendali atas rantai pasok chip. Dulu pembeli dominan, kini Pentagon hanya membeli 2 persen dari pasar chip AS (kalah jauh dibanding Apple).
Karena biaya fab canggih terlalu mahal bahkan untuk NSA (yang menutup pabriknya di tahun 2000-an), militer terpaksa melakukan outsourcing ke foundry komersial. Namun, karena Intel tertinggal dan manufaktur canggih pindah ke Taiwan/Korea, Pentagon menghadapi risiko keamanan serius: chip militer dibuat di luar negeri yang rentan disusupi backdoor. Solusi DARPA adalah teknologi "Zero Trust": menanam sensor mikro pada chip untuk memverifikasi keasliannya.
#5: Mustahil Menang Jika Musuh "Satu Mobil" (2018 - Sekarang)
Kebocoran keamanan chip Intel (Spectre dan Meltdown) pada 2018—di mana Intel memberitahu pelanggan China sebelum pemerintah AS—menegaskan betapa dalamnya integrasi kedua negara.
Pejabat Pentagon menyadari bahwa strategi offset AS hampir mustahil berhasil jika China memiliki akses ke teknologi yang sama ("orang China ada di dalam mobil bersama kita"). Militer China dapat dengan mudah membeli chip canggih AS secara legal atau melalui Civil-Military Fusion. Dengan Taiwan sebagai satu-satunya sumber chip tercanggih bagi kedua belah pihak sekaligus menjadi titik konflik paling panas, masa depan hegemoni militer global kini bergantung pada sepotong silikon di pulau yang diperebutkan itu.