The Innovator’s Dilemma

Chip War 
Bab 33
The Innovator’s Dilemma

#1: Momen Teater Jobs dan Dominasi Intel (2006)
Pada konferensi Macworld 2006, Steve Jobs dan CEO Intel Paul Otellini—yang muncul dari balik asap mengenakan "baju kelinci" (bunny suit) pekerja pabrik—mengumumkan bahwa komputer Mac akan beralih menggunakan chip Intel.

Peristiwa ini menandai puncak dominasi arsitektur x86 milik Intel, yang saat itu telah menguasai hampir seluruh pasar PC (kecuali Apple, hingga saat itu) dan server pusat data. Monopoli de facto ini adalah hasil dari visi Andy Grove yang membayangkan bisnis Intel sebagai "kastil" (profitabilitas) yang dilindungi oleh "parit" dalam berupa standar industri x86 yang sulit ditembus.

#2: Paul Otellini dan Pergeseran Budaya Manajemen
Paul Otellini, CEO Intel pertama yang berlatar belakang ekonomi dan MBA (bukan insinyur atau PhD), memimpin perusahaan dari 2005 hingga 2013. Di bawah kepemimpinannya, budaya Intel bergeser dari fokus pada inovasi teknik ke manajemen finansial dan margin keuntungan.

Meskipun mewarisi perusahaan yang sangat menguntungkan, pendekatan manajemen "buku teks" Otellini—yang memprioritaskan mempertahankan margin tinggi dari monopoli PC/server—membuat Intel enggan mengambil risiko pada pasar baru yang margin awalnya terlihat kecil, sebuah pola pikir yang kelak menjadi bumerang fatal.

#3: Ancaman ARM dan Model Bisnis Baru (1990)
Pada tahun 1990, Apple dan mitra lainnya mendirikan ARM di Inggris dengan tujuan menciptakan standar global baru berbasis arsitektur RISC yang lebih hemat energi dibanding x86.

CEO pertama ARM, Robin Saxby, menyadari bahwa mencoba menyaingi manufaktur Intel adalah bunuh diri ("Silicon is like steel... a commodity"). Oleh karena itu, ARM mengadopsi model bisnis radikal: hanya menjual lisensi desain (arsitektur) kepada perusahaan lain (fabless) untuk diproduksi di foundry seperti TSMC. Meskipun gagal menembus benteng PC Intel-Windows, arsitektur hemat daya ARM diam-diam menjadi standar di perangkat portabel seperti game boy Nintendo, pasar niche yang diabaikan Intel.

#4: Kesalahan Fatal Menolak iPhone (Pertengahan 2000-an)
Ketika Steve Jobs kembali mendekati Otellini untuk meminta chip bagi "ponsel komputer" baru Apple (iPhone), Intel menolaknya.

Otellini beralasan bahwa Apple tidak mau membayar cukup mahal ("not a nickel more") dan volume penjualannya tidak akan cukup besar untuk menutupi biaya pengembangan ("it wasn't one of these things you can make up on volume"). Prediksi ini salah total; volume iPhone ternyata 100 kali lebih besar dari perkiraan siapa pun. Apple akhirnya beralih ke arsitektur ARM (diproduksi oleh Samsung), dan Intel kehilangan kesempatan emas untuk masuk ke pasar perangkat seluler yang kelak mendominasi dunia.

#5: Dilema Inovator yang Melumpuhkan (2000-an)
Intel menjadi korban klasik dari "Dilema Inovator" (Innovator's Dilemma) Clayton Christensen—teori yang ironisnya sangat dipahami oleh Andy Grove. Masalahnya bukan karena Intel tidak tahu tentang potensi perangkat seluler, tetapi karena bisnis PC dan server mereka terlalu menguntungkan.

Berbeda dengan krisis tahun 1980-an di mana Intel "berdarah-darah" dan terpaksa berubah, pada tahun 2000-an Intel mencetak uang dalam jumlah masif. Fiksasi pada mempertahankan margin keuntungan jangka pendek membuat manajemen enggan berinvestasi pada produk baru yang marginnya lebih rendah (seperti chip ponsel), membutakan mereka terhadap pergeseran paradigma komputasi.

#6: Harga Mahal dari Keengganan Berubah
Akibat menolak iPhone dan meremehkan pasar seluler, Intel kehilangan pijakan di segmen yang kini mengonsumsi hampir sepertiga dari seluruh chip yang terjual di dunia.

Meskipun telah mencetak seperempat triliun dolar laba sejak akhir 1980-an, obsesi Intel untuk "merekayasa neraca keuangan daripada merekayasa transistor" membuat mereka gagal mendisrupsi diri sendiri untuk kedua kalinya. Ketika Apple dan ekosistem ARM membangun "kastil" baru di dunia seluler, Intel terlambat menyadari bahwa parit x86 mereka tidak lagi melindungi mereka dari masa depan.

Leave a Comment