The Fat Man

ASML's Architects 
Bab 55
The Fat Man

#1: Pensiun yang Singkat (Musim Panas 1985)

Wim Troost pensiun dari Philips pada ulang tahun ke-60. Namun, di pesta perpisahannya, Gjalt Smit memintanya kembali membantu ASML sebagai konsultan paruh waktu. Troost, yang tidak bisa menolak permintaan bantuan, setuju.

Tugas Awal: Troost menangani "sampah" administratif yang tidak sempat diurus Smit (dewan kerja, keamanan, lansekap, dll) serta mesin e-beam. Pada Maret 1987, tugasnya selesai, dan ia resmi pensiun kembali untuk menikmati hidup bersama istrinya.

#2: Kunjungan George de Kruiff (Musim Panas 1987)

Saat bersantai di kebun rumahnya di Nuenen, Troost didatangi George de Kruiff.

Berita Buruk: Gjalt Smit telah pergi, dan ASML tanpa pemimpin. De Kruiff memohon Troost menjadi pejabat sementara (mind the shop) selama beberapa bulan sampai Arthur del Prado menemukan CEO baru. Troost setuju karena cinta mati pada proyek ini.

#3: Masa Ketidakpastian dan "Pria Gemuk"

Troost bekerja 60 jam seminggu tanpa otoritas resmi. Serikat pekerja menuntut PHK dan pemotongan biaya.

- Clive Segal: Del Prado akhirnya memperkenalkan calon CEO baru: Clive Segal, seorang pria Inggris pendek dan gemuk (short, fat man) yang memimpin Cambridge Medical Equipment. Troost diminta menyiapkan penyambutan.
- Menunggu Godot: Januari 1988, panitia penyambutan (Polak, Van Kessel) berjaga di lobi, tapi Segal tak kunjung muncul. Setelah berminggu-minggu mengejar, Troost akhirnya bisa bicara dengan Segal di telepon.
- Kejutan: Segal mengaku tidak berminat sama sekali bergabung dengan ASML karena tidak paham industri semikonduktor.

#4: Ledakan Troost dan Penunjukan Resmi

Troost meledak. Ia menelepon Del Prado dan De Kruiff dengan marah: "Saya melakukan yang terbaik... Kalian hanya bermain-main menjalankan bisnis ini."

- Tuntutan: Troost menuntut diangkat sebagai CEO resmi saat itu juga agar punya otoritas tanda tangan.
- Ironi: Wim Troost, pria yang seumur hidup tidak pernah minta promosi dan dulu diabaikan untuk memimpin ASML (kalah dari Smit), akhirnya menjadi CEO karena tidak ada pilihan lain.

#5: Gaya Kepemimpinan Baru: "Old School"

Gaya Troost sangat kontras dengan Smit.

- Detail & Hemat: Troost sangat terorganisir, mencatat setiap sen, dan mencoba memotong tunjangan pengeluaran bebas pajak karyawan (meski gagal karena kontrak).
- Budaya Kerja: Asistennya, Fia Loozen, kaget harus mengetik surat yang didiktekan Troost. Troost bekerja siang malam dan menuntut hal sama dari stafnya. Ia juga menambahkan gelar "Dr." di kartu namanya (sebenarnya Ir.) untuk mengesankan pelanggan Amerika.

#6: Pemangkasan Menyakitkan (Akhir 1987)

Untuk bertahan hidup, Troost harus mengambil langkah drastis.

- Revisi Target: Produksi 1988 dipangkas dari 80 menjadi 60 mesin.
- PHK: Mengumumkan pemotongan 60 pekerjaan, termasuk di kantor Phoenix.

Leave a Comment