The Deadline

ASML's Architects 
Bab 24
The Deadline

#1: Penemuan Potensi Teknologi dan Misi Wittekoek (Awal 1984)

Dalam diskusi mendalam dengan tim barunya, Gjalt Smit mulai menyadari bahwa di balik citra buruk, ASML memiliki teknologi yang jauh melampaui zamannya, terutama sistem penyelarasan (alignment) dan meja wafer elektrik buatan Natlab yang belum digunakan kompetitor.

Richard George mendesak Smit untuk membawa kembali Steef Wittekoek, "otak" di balik pengembangan stepper Philips yang telah pindah ke AS karena kecewa. George menegaskan Wittekoek adalah sosok vital. Tanpa ragu, Smit langsung terbang ke New York untuk membujuk Wittekoek kembali bergabung.

#2: Tenggat Waktu Mustahil dan Strategi "Lima Prototipe" (1984)

ASML menghadapi kenyataan pahit: untuk bertahan hidup, mereka harus memamerkan mesin revolusioner (PAS 2500) pada pameran SEMICON West 1986. Ini berarti siklus pengembangan hanya 2 tahun, padahal standar Philips biasanya 10 tahun.

Richard George merancang strategi radikal untuk memotong waktu. Alih-alih proses seri, ia memecah mesin menjadi modul-modul yang dikembangkan secara paralel. Solusi paling ekstrim (dan mahal) adalah keputusan untuk membangun lima prototipe sekaligus. Tujuannya adalah agar pengujian dan integrasi modul bisa dilakukan bersamaan, memangkas fase integrasi dari 2,5 tahun menjadi hanya 6 bulan.

#3: Perekrutan Will Bertrand dan Penolakan Manufaktur Internal (1984)

Atas saran mantan kolega ITT, Smit merekrut Will Bertrand, pakar logistik dari TU Eindhoven, untuk membantu Joop van Kessel. Bertrand setuju bergabung dengan syarat ASML tidak mengadopsi budaya birokratis Philips ("Jika kita pakai budaya itu, kita mati sebelum mulai").

Bertrand dan Van Kessel melakukan studi banding ke Jerman. Berbeda dengan filosofi Jerman Fertigungstiefe (kontrol produksi penuh secara internal), ASML mengambil keputusan kontroversial: tidak membuat komponen sendiri. ASML hanya akan menjadi perusahaan pengembangan dan perakitan (assembly). Semua pembuatan logam dan komponen diserahkan ke pemasok eksternal.

#4: Inovasi Logistik: "Early Release" dan XBMS (Pertengahan 1984)

Tantangan terbesar strategi outsourcing dan pengembangan cepat ini adalah logistik. Perubahan desain di R&D terjadi setiap hari, membuat sistem perencanaan material tradisional (MRP) tidak berguna.

Bertrand menciptakan solusi hibrida: mewajibkan insinyur R&D mendokumentasikan komponen dan kebutuhan material sebelum desain final selesai (early release). Ini memungkinkan pemasok bersiap lebih awal. Untuk mendukung ini, ASML membeli sistem perangkat lunak mahal dari Xerox (XBMS).

#5: Konflik dengan Del Prado dan Budaya Baru (Akhir 1984)

Keputusan membeli sistem XBMS yang berharga jutaan dolar memicu konflik dengan pemegang saham. Arthur del Prado menolak biaya tersebut, menganggap logistik hanyalah urusan sederhana ("back-of-the-napkin stuff"). Namun, Smit bersikeras karena pengalamannya di ITT mengajarkan bahwa logistik presisi adalah kunci.

Smit memaksakan disiplin administrasi kepada para insinyur yang biasanya anarkis ("From now on, it’s required"). Langkah ini menanamkan budaya baru di ASML: keberanian menyewa konsultan eksternal terbaik tanpa mempedulikan biaya demi mencapai kualitas kelas dunia, sebuah prinsip yang kelak menjadi ciri khas perusahaan.

Leave a Comment