“The Cold War Is Over and You Have Won”

Chip War 
Bab 28
“The Cold War Is Over and You Have Won”

#1: Pecahnya Gelembung Ekonomi Jepang (1990)
Setelah satu dekade mendominasi dan Akio Morita diagungkan sebagai "oracle" bisnis global, nasib Jepang berbalik drastis pada tahun 1990. Pasar keuangan jatuh dan pasar saham Tokyo kehilangan setengah nilainya.

Kehancuran ini menelanjangi fondasi rapuh industri semikonduktor Jepang: investasi berlebihan yang didukung pemerintah dan modal murah telah mendorong produsen memprioritaskan output daripada profitabilitas. Tanpa disiplin pasar yang ketat seperti di AS, perusahaan Jepang terus membangun pabrik DRAM yang merugi, bahkan ketika pesaing berbiaya rendah seperti Samsung dan Micron mulai menggerus pangsa pasar mereka.

#2: Kegagalan Inovasi di Tengah Dominasi (1980-an - 1990-an)
Meskipun mendominasi pasar memori, raksasa DRAM Jepang seperti Toshiba gagal memanfaatkan posisi mereka untuk berinovasi. Pada tahun 1981, insinyur Toshiba Fujio Masuoka menemukan memori flash (NAND), namun penemuan revolusioner ini diabaikan oleh manajemennya sendiri dan justru dikomersialkan oleh Intel.

Kesalahan terbesar Jepang adalah melewatkan revolusi PC. Terlena dengan kesuksesan DRAM, mereka mengabaikan pasar mikroprosesor dan ekosistem PC, membiarkan Intel dan perusahaan AS lainnya mengambil alih segmen paling menguntungkan ini. Akibatnya, pangsa pasar DRAM Jepang anjlok dari 90 persen di akhir 1980-an menjadi hanya 20 persen pada tahun 1998.

#3: Runtuhnya Ambisi Geopolitik Ishihara (1991 - 1994)
Ilusi kekuatan geopolitik Jepang yang digaungkan dalam buku "The Japan That Can Say No" runtuh saat Perang Teluk meletus pada 1991. Alih-alih menggunakan dominasi chip sebagai alat tawar, Jepang hanya bisa berperan pasif dengan mengirimkan cek bantuan (checkbook diplomacy), yang terlihat impoten dibandingkan demonstrasi kekuatan bom pintar Amerika.

Meskipun Shintaro Ishihara terus menerbitkan sekuel bukunya hingga 1994, argumennya tidak lagi relevan bagi publik Jepang yang melihat industri chip mereka menyusut di hadapan kebangkitan kembali teknologi Amerika.

#4: Pengakuan Kekalahan Soviet (1983 - 1990)
Di sisi lain Tirai Besi, pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev mengunjungi Silicon Valley pada tahun 1990, mengakui bahwa masa depan teknologi lahir di California. Dalam pidatonya di Stanford, ia menyatakan Perang Dingin telah usai dan meminta agar tidak diperdebatkan siapa pemenangnya.

Namun, pemenangnya sudah jelas bagi Marshal Ogarkov sejak lama. Pada tahun 1983, ia secara pribadi mengakui kepada jurnalis AS Les Gelb: "Perang Dingin sudah berakhir dan kalianlah pemenangnya." Ogarkov menyadari bahwa meskipun memiliki roket besar, Uni Soviet kalah telak dalam "perang komputer"; ketertinggalan teknologi semikonduktor membuat kekuatan militer mereka menjadi usang.

#5: Akhir yang Memalukan bagi Superpower (1991)
Kekalahan mudah sekutu Soviet, Irak, dalam Perang Teluk mempermalukan militer Soviet dan KGB, memicu kudeta yang gagal terhadap Gorbachev dan mempercepat runtuhnya Uni Soviet.

Simbol kekalahan total ini terlihat pada nasib industri chip Rusia di tahun 1990-an: salah satu pabrik semikonduktor (fab) kebanggaan mereka terpaksa beralih fungsi menjadi produsen chip sederhana untuk mainan Happy Meal McDonald's. Perang Dingin berakhir dengan kemenangan mutlak Silicon Valley atas Kremlin.

Leave a Comment