Chip War
Bab 15
“That Competition Is Tough”
#1: Inovasi Walkman dan Perubahan Citra (1979)
Hanya beberapa bulan sebelum krisis kualitas AS terungkap, tepatnya pada tahun 1979, raksasa elektronik Jepang, Sony, memperkenalkan Walkman.
Perangkat ini merevolusi industri musik dengan menanamkan lima sirkuit terpadu canggih di setiap unitnya. Dengan penjualan mencapai 385 juta unit di seluruh dunia, produk ini membuktikan bahwa Jepang bukan lagi sekadar peniru ("implementer"), melainkan inovator murni yang mampu menciptakan pasar baru menggunakan chip yang awalnya dipelopori Silicon Valley.
#2: Arogansi "Click, Click" Silicon Valley (Akhir 1970-an)
Sebelum data kualitas terungkap, pembuat chip AS memandang remeh pesaing Jepang seperti Toshiba dan NEC. Mereka sering bercanda bahwa Jepang adalah negara "click, click"—suara kamera insinyur Jepang yang dianggap hanya bisa menyalin ide di konferensi.
Industri AS meyakini bahwa banyaknya tuntutan hukum kekayaan intelektual terhadap perusahaan Jepang adalah bukti bahwa Silicon Valley masih jauh lebih unggul, gagal menyadari bahwa Jepang telah beralih dari memproduksi barang murah menjadi barang berkualitas tinggi.
#3: Bom Waktu di Hotel Mayflower (25 Maret 1980)
Pada tanggal 25 Maret 1980, dalam sebuah konferensi industri di Hotel Mayflower, Washington, D.C., Richard Anderson, seorang eksekutif Hewlett-Packard (HP), naik ke panggung.
Sebagai salah satu pembeli semikonduktor terbesar, Anderson memiliki pandangan menyeluruh terhadap kinerja industri. Di hadapan para penjual chip yang ingin merayunya, ia mengungkapkan data pengujian internal HP yang menghancurkan mitos keunggulan Amerika.
#4: Data Kualitas yang Menghancurkan (1980)
Anderson memaparkan hasil pengujian chip memori DRAM. Tiga perusahaan Jepang yang diuji tidak memiliki tingkat kegagalan di atas 0,02 persen selama 1.000 jam pertama penggunaan.
Sebaliknya, perusahaan AS terbaik memiliki tingkat kegagalan 0,09 persen (4,5 kali lebih buruk), dan perusahaan AS terburuk memiliki tingkat kegagalan 0,26 persen (lebih dari 10 kali lipat lebih buruk daripada Jepang). Kesimpulannya menohok: chip AS berharga sama, tetapi jauh lebih sering rusak.
#5: Realitas Budaya Kerja dan Efisiensi (1980-an)
Terkejut dengan efisiensi pesaing, Charlie Sporck dari National Semiconductor mengirim mandor dan pekerjanya untuk tur ke fasilitas semikonduktor di Jepang.
Mereka kembali dengan laporan (yang kemudian dibuatkan filmnya) bahwa pekerja Jepang "sangat pro-perusahaan" dan bahkan menempatkan prioritas perusahaan di atas keluarga. Hal ini menyadarkan pimpinan industri AS bahwa mereka menghadapi kompetisi yang "tangguh" dengan tingkat produktivitas yang jauh melampaui kemampuan pabrik-pabrik Amerika.