Chip War
Bab 44
Technology Transfer
#1: Misi Diplomasi Teknologi Ginni Rometty (2014 - 2015)
Setelah penjualan IBM di China anjlok 20 persen pasca-bocoran Snowden, CEO Ginni Rometty memutuskan untuk menawarkan "ranting zaitun" berupa teknologi semikonduktor.
Langkah ini adalah strategi quid pro quo yang jelas: IBM membuka teknologi arsitektur chip "Power" mereka kepada mitra lokal China dengan imbalan akses pasar yang dipulihkan. Bagi Beijing, ini adalah kesempatan emas. Wakil Perdana Menteri Ma Kai menyambut tawaran ini karena China sangat membutuhkan teknologi chip server untuk mengurangi ketergantungan pada monopoli x86 Intel. Salah satu penerima manfaat dari teknologi IBM ini adalah mantan kepala keamanan siber persenjataan nuklir China, Shen Changxiang, yang menegaskan dimensi keamanan nasional dari kemitraan tersebut.
#2: Joint Venture Qualcomm di Guizhou (2016)
Qualcomm, yang menghadapi tekanan regulasi antimonopoli di China, setuju membentuk usaha patungan dengan Huaxintong pada tahun 2016 untuk mengembangkan chip server berbasis Arm.
Meskipun usaha patungan ini ditutup pada tahun 2019, keahlian desain chip canggih yang ditransfer diduga mengalir ke perusahaan lain seperti Phytium, yang kemudian dituduh AS membantu militer China mengembangkan rudal hipersonik. Kemitraan ini menunjukkan pola bagaimana perusahaan AS "membayar" akses pasar dengan transfer pengetahuan yang sensitif.
#3: Penjualan "Kunci Kerajaan" oleh AMD (2016)
Pada tahun 2016, AMD yang sedang kesulitan keuangan (hampir bangkrut) membuat kesepakatan kontroversial: melisensikan teknologi inti x86 kepada konsorsium China (termasuk Sugon, pembuat superkomputer yang terkait militer).
Kesepakatan ini lolos dari pengawasan ketat karena AMD secara cerdik menyusun struktur transaksi untuk menghindari tinjauan CFIUS dan hanya melapor ke Departemen Perdagangan yang kurang paham teknis. Media China menyebut kesepakatan ini sebagai kemenangan besar dalam memutus ketergantungan asing ("tidak lagi ditarik hidung kita"), sementara pejabat Pentagon kemudian menyadari bahwa AMD mungkin telah menjual "mahkota permata" teknologi prosesor AS demi uang tunai jangka pendek.
#4: Spin-off Arm China (2018)
Pada tahun 2018, Arm (milik Softbank) menjual 51 persen saham divisi China-nya kepada investor lokal dengan harga murah ($775 juta), meskipun divisi tersebut menyumbang seperlima penjualan global.
Eksekutif Arm secara terbuka mengakui logikanya: China menginginkan teknologi yang "aman dan terkendali" untuk keperluan militer dan pengawasan domestik. Dengan menjadikan Arm China perusahaan lokal, China dapat mengembangkan chip sensitif tersebut tanpa campur tangan asing, sebuah konsesi strategis yang lagi-lagi lolos dari pengawasan regulator Barat.
#5: Logika Bisnis vs Risiko Keamanan
Secara kolektif, kesepakatan yang dibuat oleh IBM, Qualcomm, AMD, dan Arm didorong oleh logika bisnis yang rasional (akses pasar, uang tunai saat krisis). Namun, secara agregat, transfer teknologi ini secara signifikan mempercepat kemampuan China dalam komputasi kinerja tinggi (supercomputing).
Ginni Rometty benar melihat "peluang besar" di China, namun salah dalam menilai siapa pemenang akhirnya. China berhasil memanfaatkan persaingan dan keputusasaan perusahaan Barat untuk menyerap teknologi "inti" yang mereka butuhkan untuk memodernisasi militer dan mengurangi ketergantungan strategis mereka.