Supply Chain Statecraft

Chip War 
Bab 12
Supply Chain Statecraft

#1: Awal Mula Ketegangan dan Benturan Budaya di Taiwan
Pada tahun 1968, eksekutif Texas Instruments (TI), Mark Shepherd, bersama Morris Chang melakukan kunjungan perdana ke Taiwan sebagai bagian dari tur Asia untuk mencari lokasi pabrik perakitan chip baru.

Kunjungan ini awalnya berjalan sangat buruk akibat benturan budaya; Shepherd marah besar ketika steak-nya disajikan dengan kecap asin, bukan gaya Texas. Ketegangan memuncak ketika Menteri Ekonomi Taiwan, K.T. Li, menuduh Shepherd sebagai agen imperium Amerika dan menyatakan bahwa hak kekayaan intelektual adalah alat yang "digunakan imperialis untuk menindas negara-negara yang kurang maju."

#2: Pergeseran Geopolitik dan Ancaman Nuklir
Di Washington, strategi AS dihantui ketakutan bahwa jatuhnya Vietnam Selatan akan memicu efek domino komunisme di Asia. Bagi Taiwan, ancaman ini menjadi sangat nyata setelah China menguji senjata atom pertamanya pada tahun 1964, yang disusul oleh uji coba senjata termonuklir tak lama kemudian.

Di saat yang sama, AS mulai memangkas bantuan ekonomi karena perang Vietnam yang berlarut-larut. Hal ini membuat posisi Chiang Kai-shek semakin lemah tanpa jaminan keamanan Amerika yang kuat, mendorong Taiwan untuk mencari cara lain guna mengikat diri dengan AS.

#3: Strategi Integrasi Ekonomi sebagai Perisai Pertahanan
Menyadari posisi Taiwan yang rentan, K.T. Li—seorang lulusan fisika nuklir Cambridge—mengubah strateginya dari konfrontasi menjadi integrasi ekonomi. Ia menyadari logika baru: meskipun orang Amerika mungkin enggan berperang membela Taiwan, mereka mungkin bersedia "membela Texas Instruments."

Setelah hubungan diplomatik membaik dan didorong oleh saran Morris Chang, dewan direksi TI menyetujui pembangunan fasilitas pada Juli 1968. Pabrik tersebut bergerak cepat dan mulai merakit perangkat pertamanya pada Agustus 1969.

#4: Kesuksesan Operasional dan Skala Produksi Masif
Keputusan untuk melakukan offshoring ke Asia terbukti sangat sukses bagi Texas Instruments. Fasilitas di Taiwan tidak hanya berfungsi sebagai perakitan sederhana, tetapi berkembang menjadi bagian integral dari rantai pasokan global perusahaan.

Skala produksinya tumbuh sangat pesat. Pada tahun 1980, pabrik TI di Taiwan mencatatkan sejarah penting dengan berhasil mengirimkan unit ke-1 miliar (1.000.000.000), membuktikan efisiensi luar biasa dari model produksi ini.

#5: Aliansi Baru di Singapura dan Transformasi Ekonomi
Model sukses Taiwan segera ditiru oleh negara lain. Pada tahun 1973, pemimpin Singapura Lee Kuan Yew memberitahu Presiden AS Richard Nixon bahwa ia mengandalkan ekspor untuk "menyerap pengangguran," yang mengundang masuknya TI dan National Semiconductors.

Dampaknya sangat masif: pada awal 1980-an, industri elektronik menyumbang 7 persen dari GNP Singapura dan menyediakan seperempat (25%) dari total pekerjaan manufaktur. Dari total produksi elektronik tersebut, 60 persen adalah perangkat semikonduktor.

#6: Stabilitas Politik Melalui Migrasi Tenaga Kerja
Industri semikonduktor mengubah peta sosial-politik Asia dengan mengubah kota-kota yang rawan radikalisme menjadi pusat tenaga kerja industri. Di Malaysia, antara tahun 1970 hingga 1980, terjadi migrasi besar di mana 15 persen tenaga kerja meninggalkan pertanian menuju kota.

Pekerjaan perakitan elektronik yang bergaji relatif baik berhasil menampung migrasi ini, menjaga tingkat pengangguran tetap rendah, dan mencegah ketidakstabilan politik yang sering terjadi akibat perpindahan penduduk massal.

#7: Komitmen Jangka Panjang Pasca-Vietnam
Meskipun AS akhirnya kalah di Vietnam dan menarik kehadiran militernya, rantai pasokan trans-Pasifik tetap bertahan. Pada tahun 1977, Mark Shepherd kembali ke Taiwan untuk menemui K.T. Li.

Shepherd menegaskan bahwa meskipun risiko invasi China masih ada, dinamika ekonomi Taiwan jauh lebih berharga. Ia berjanji, "TI akan tinggal dan terus tumbuh di Taiwan," menandai keberhasilan Taiwan menjadikan dirinya mitra yang tak tergantikan bagi Silicon Valley.

Leave a Comment