Story Bias

The Art of Thinking Clearly 
Bab 13
Story Bias

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Story Bias (Bias Cerita).
Deskripsi Judul: "Bahkan Kisah Nyata pun Adalah Dongeng" (Even True Stories Are Fairytales).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Story Bias? Ini adalah kecenderungan otak manusia untuk "merajut" detail-detail kehidupan yang kacau dan rumit menjadi sebuah cerita yang rapi dan konsisten. Kita memaksakan pola dan makna pada peristiwa-peristiwa yang sebenarnya acak, menyederhanakan realitas, dan menyaring hal-hal yang tidak cocok dengan narasi tersebut. Akibatnya, kita merasa "paham" akan sesuatu, padahal pemahaman itu hanyalah konstruksi yang dibuat setelah kejadian berlangsung (hindsight).

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Story Bias karena manusia lebih dulu menggunakan cerita (mitologi) untuk menjelaskan dunia sebelum mengenal sains. Otak kita lebih tertarik pada narasi yang memiliki alur emosional ("cerita yang bagus") daripada fakta abstrak yang kering, sehingga fakta yang relevan sering dikorbankan demi keutuhan sebuah cerita.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Mewabah)
Alasan: Artikel menyebutkan bahwa di media, bias ini "mengamuk seperti api liar" (rages like wildfire). Manusia tampaknya tidak bisa hidup tanpa cerita; kita mencoba cerita pada hidup kita seperti kita mencoba pakaian. Iklan dan berita sangat mengeksploitasi hal ini karena cerita jauh lebih menarik dan mudah diingat daripada fakta.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Berita Jembatan Runtuh: Saat sebuah jembatan runtuh menimpa mobil, media fokus memberitakan kisah hidup pengemudi yang malang (siapa dia, dari mana asalnya, bagaimana perasaannya). Cerita ini menarik emosi tetapi sama sekali tidak menjelaskan penyebab kecelakaan. Pertanyaan krusial tapi membosankan (seperti: apakah desain jembatan salah? apakah ada kelelahan material?) diabaikan karena tidak membentuk cerita yang seru.

- Raja dan Ratu (E.M. Forster): Mana yang lebih mudah diingat: A) "Raja meninggal, lalu ratu meninggal." atau B) "Raja meninggal, dan ratu meninggal karena sedih."? Mayoritas orang lebih mengingat yang B karena ada hubungan emosional/makna, meskipun yang A lebih pendek dan faktual. Otak kita lebih suka makna daripada sekadar laporan fakta.

- Penjelasan Sejarah & Ekonomi: Kita sering merasa "paham" mengapa Perang Dunia II terjadi atau mengapa Lehman Brothers runtuh dengan menghubung-hubungkan peristiwa menjadi satu alur cerita yang logis. Padahal, saat peristiwa itu terjadi, semuanya terlihat acak dan tidak terhubung. Makna tersebut baru kita tempelkan setelah kejadiannya selesai.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Bongkar Ceritanya: Setiap mendengar cerita, tanyakan: Apa yang coba disembunyikan oleh pengirim cerita? Fakta apa yang dibuang agar ceritanya "nyambung"? Elemen yang dihilangkan mungkin justru yang paling relevan.

- Baca Koran Lama: Pergilah ke perpustakaan dan baca koran lama. Anda akan melihat bahwa peristiwa-peristiwa yang hari ini terlihat saling berhubungan (membentuk sejarah), pada saat itu terlihat tidak terhubung sama sekali.

- Waspada Rasa "Paham" Palsu: Ingatlah bahwa cerita memberikan rasa pemahaman yang palsu (false sense of understanding). Rasa aman semu ini berbahaya karena membuat kita berani mengambil risiko lebih besar (berjalan di atas es tipis) tanpa memahami realitas yang sebenarnya.

Leave a Comment