The Art of Thinking Clearly
Bab 33
Social Loafing
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Social Loafing (Kemalasan Sosial).
Asal Usul: The Ringelmann Effect (Efek Ringelmann).
Istilah Terkait: Diffusion of Responsibility (Difusi Tanggung Jawab), Risky Shift (Pergeseran Risiko).
Deskripsi Judul: "Mengapa Tim Itu Malas" (Why Teams Are Lazy).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Social Loafing? Ini adalah fenomena penurunan kinerja individu ketika bekerja dalam kelompok dibandingkan ketika bekerja sendirian. Kinerja individu melebur ke dalam upaya kelompok sehingga tidak terlihat jelas secara langsung. Ini terjadi baik secara fisik (seperti menarik tali) maupun mental (seperti dalam rapat).
Mengapa dinamakan demikian? Istilah ini menggambarkan perilaku "bermalas-malasan" (loafing) yang terjadi secara spesifik dalam konteks sosial atau kelompok. Insinyur Prancis Maximilian Ringelmann menemukannya pada tahun 1913 saat mengamati bahwa dua kuda yang menarik kereta tidak menghasilkan tenaga dua kali lipat satu kuda. Ia kemudian menguji manusia menarik tali dan menemukan semakin banyak orang, semakin kecil persentase tenaga yang dikeluarkan per individu.
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Perilaku Rasional)
Alasan: Artikel menyebutkan bahwa social loafing sebenarnya adalah perilaku rasional (semacam kecurangan yang kita semua lakukan, sadar atau tidak). Mengapa harus menghabiskan seluruh energi jika setengah saja sudah cukup dan tidak ketahuan? Kita memiliki insting evolusi untuk mengetahui seberapa banyak kita bisa bermalas-malasan tanpa dihukum atau dikeluarkan dari kelompok.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Eksperimen Tarik Tali (Ringelmann): Saat satu orang menarik tali, ia menggunakan 100% kekuatan. Saat dua orang menarik, masing-masing hanya memakai 93%. Saat delapan orang menarik, masing-masing hanya memakai 49% kekuatan mereka. Semakin besar kelompok, semakin kecil usaha per orang.
- Rapat Kantor (Kemalasan Mental): Semakin besar jumlah peserta rapat, semakin lemah partisipasi individu. Begitu jumlah peserta mencapai angka tertentu, kinerja mencapai titik stagnan (inersia maksimum). Orang cenderung "menumpang" secara mental dan membiarkan orang lain berpikir keras.
- Keputusan Berisiko (Risky Shift): Tim manajemen atau departemen pertahanan sering mengambil keputusan yang lebih berisiko (seperti penggunaan senjata nuklir atau strategi dana pensiun miliaran dolar) daripada keputusan individu. Mengapa? Karena Diffusion of Responsibility: tidak ada satu orang pun yang mau disalahkan sendirian jika gagal. Mereka bersembunyi di balik "keputusan tim".
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Buat Kinerja Terlihat: Kelemahan kelompok dapat dimitigasi dengan membuat kinerja individu sejelas mungkin (as visible as possible).
- Tim Kecil & Spesialis: Di budaya Barat, tim bekerja lebih baik jika ukurannya kecil dan terdiri dari orang-orang yang beragam serta memiliki spesialisasi khusus. Dengan cara ini, kinerja individu dapat dilacak kembali ke setiap spesialis, sehingga sulit untuk bersembunyi/malas.
- Hindari Difusi Tanggung Jawab: Waspadalah saat berada dalam kelompok besar, karena rasa tanggung jawab pribadi cenderung memudar. Pastikan akuntabilitas tetap ada.