Social Comparison Bias

The Art of Thinking Clearly 
Bab 72
Social Comparison Bias

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Social Comparison Bias (Bias Perbandingan Sosial).
Fenomena Terkait: The Bozo Explosion (Ledakan Orang Bodoh), Dunning-Kruger Effect.
Deskripsi Judul: "Mengapa Kita Membidik Anak Baru" (Why We Take Aim at Young Guns).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Social Comparison Bias? Ini adalah kecenderungan untuk menahan bantuan atau menghalangi orang yang dianggap berpotensi mengungguli kita, meskipun dalam jangka panjang hal itu membuat kita terlihat bodoh atau merugikan kelompok. Rasa takut tersaingi membuat kita memilih untuk dikelilingi oleh orang-orang yang kemampuannya di bawah kita agar status kita tetap aman.

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan demikian karena pemicunya adalah perbandingan sosial. Kita membandingkan diri dengan pesaing (terutama pendatang baru yang berbakat). Jika perbandingan itu mengancam posisi kita di puncak, kita bertindak irasional dengan memboikot kemajuan mereka, yang akhirnya memicu penurunan kualitas secara sistemik.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Penyebab Kemunduran Organisasi)
Alasan: Bias ini mencapai tingkat "beracun" (toxic levels) di dunia akademis dan perusahaan. Guy Kawasaki menyebutnya penyebab "Ledakan Orang Bodoh" (Bozo Explosion): Pemain kelas B merekrut pemain kelas C agar merasa superior, C merekrut D, dan akhirnya organisasi dipenuhi orang-orang tidak kompeten (pemain Z).

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Akademisi & Pemenang Nobel: Ilmuwan senior sering menghambat publikasi makalah inovatif dari peneliti muda karena takut "digulingkan dari takhta". Ada kasus pemenang Nobel yang menghalangi kolega muda yang jenius untuk masuk ke universitasnya. Akibatnya, si jenius pindah ke universitas lain dan membesarkan nama institusi saingan, sementara institusi lama kehilangan status kelas dunianya.

- Ledakan Orang Bodoh (Perusahaan): Manajer yang tidak percaya diri (pemain B) sengaja merekrut bawahan yang kurang pintar (pemain C) agar tidak tersaingi. Ini menciptakan siklus penurunan kualitas karyawan hingga ke level terendah (Z-players). Sebaliknya, pemain A (top performer) berani merekrut orang yang lebih pintar dari diri mereka sendiri.

- Penulis & Testimoni: Penulis diminta memberikan testimoni pujian untuk buku kenalannya yang berpotensi menjadi best-seller. Ia ragu: "Mengapa saya harus membantu pesaing yang akan merebut posisi nomor satu saya?" Pikiran sempit ini adalah social comparison bias. Pada akhirnya, ia sadar bahwa membantu orang berbakat lebih menguntungkan jangka panjang.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Rekrut Orang yang Lebih Pintar: Ikuti nasihat Guy Kawasaki: Pekerjakan orang yang lebih baik dari Anda. Jika tidak, Anda akan memimpin sekumpulan pecundang (pack of underdogs).

- Tiru Isaac Barrow: Profesor Isaac Barrow (abad ke-17) menyerahkan jabatannya kepada muridnya, Isaac Newton, karena sadar Newton lebih jenius. Itu adalah tindakan etis yang langka. Dukunglah bakat baru, jangan mematikannya.

- Berpihak pada Masa Depan: Sadarilah bahwa cepat atau lambat orang lain akan menyusul Anda. Lebih baik Anda berteman dan belajar dari para bintang baru (up-and-comers) daripada memusuhi mereka.

Leave a Comment