Chip War
Bab 17
“Shipping Junk”
#1: Transisi ke "Stepper" Demi Hukum Moore (Akhir 1970-an)
Pada akhir tahun 1970-an, Morris Chang dari Texas Instruments menyarankan ide radikal kepada GCA Corporation untuk mengubah mekanisme litografi dari pemindai (scanner) menjadi sistem langkah demi langkah (step-by-step).
Perubahan ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk mengatasi batas fisik teknologi pemindai yang tidak lagi memadai; demi mematuhi Hukum Moore dan terus mengecilkan ukuran transistor, industri membutuhkan resolusi pencitraan jauh lebih tinggi yang hanya bisa dicapai jika mesin memfokuskan cahaya pada satu chip secara individual, bukan seluruh wafer sekaligus.
#2: Monopoli Teknologi dan Ledakan Pendapatan (1978 - 1981)
GCA merespons pasar dengan meluncurkan stepper pertamanya pada tahun 1978, sebuah langkah yang seketika mengubah nasib perusahaan dari kontraktor militer menjadi raksasa semikonduktor.
Karena stepper menjadi satu-satunya alat yang mampu memproduksi chip generasi terbaru dengan presisi yang dibutuhkan pasar, GCA menikmati monopoli total. Hal ini menyebabkan pendapatan mereka meroket dari di bawah $50 juta menjadi $300 juta pada tahun 1981, menjadikan mereka primadona teknologi Amerika.
#3: Arogansi Manajemen Menciptakan Pesaing (Awal 1980-an)
Terbuai oleh booming industri yang dianggap akan berlangsung selamanya, CEO GCA Milt Greenberg mulai melakukan pengeluaran tidak terkendali dan mengambil keputusan fatal untuk memutus kemitraan lensa dengan Nikon.
Keputusan untuk memproduksi lensa sendiri—yang didasari rasa percaya diri berlebihan—justru menjadi bumerang karena GCA gagal mencapai kualitas yang dibutuhkan. Langkah ini memaksa Nikon, yang kehilangan mitra utamanya, untuk melakukan reverse engineering dan akhirnya melahirkan mesin stepper saingan yang kelak menghancurkan GCA.
#4: Buta Terhadap Siklus Pasar (1984 - 1986)
Antara tahun 1984 hingga 1986, penjualan peralatan litografi global anjlok sebesar 40 persen, menyebabkan pendapatan GCA jatuh lebih dari dua per tiga (66%+).
Kehancuran finansial yang parah ini terjadi karena GCA tidak memiliki ahli ekonomi yang kompeten untuk memprediksi sifat siklis industri chip. Akibatnya, manajemen terus melakukan ekspansi besar-besaran saat pasar sedang di puncak, sehingga perusahaan terjebak dengan biaya operasional raksasa dan gudang penuh barang tak terjual saat permintaan tiba-tiba menghilang.
#5: Kualitas yang Diabaikan Membuka Celah Bagi Jepang (Pertengahan 1980-an)
Pada pertengahan 1980-an, data IBM menunjukkan bahwa mesin Nikon mampu beroperasi rata-rata 750 jam tanpa henti, 10 kali lebih lama dari ekspektasi awal (75 jam), sementara mesin GCA sering rusak dan dijuluki "sampah" oleh pelanggan.
Perbedaan kualitas yang mencolok ini terjadi karena GCA bersikap arogan dan mengabaikan keluhan pelanggan ("beli apa yang kami buat"), sedangkan Nikon secara aktif mendengarkan kebutuhan pabrik untuk meningkatkan uptime. Sikap ini membuat pelanggan berbondong-bondong beralih ke pemasok Jepang.
#6: Runtuhnya Dominasi AS Karena Masalah Internal (1978 vs 1988)
Dominasi perusahaan AS dalam peralatan litografi global anjlok drastis dari 85 persen pada tahun 1978 menjadi 50 persen satu dekade kemudian (sekitar 1988).
Meskipun narasi populer sering menyalahkan subsidi pemerintah Jepang, kejatuhan ini sejatinya dipicu oleh kegagalan internal GCA (homegrown problems). Fokus manajemen yang lebih berat pada manipulasi harga saham dan angka penjualan jangka pendek daripada perbaikan fundamental produk menyebabkan hilangnya kepercayaan pasar secara permanen.