“Sharing God’s Love with the Chinese”

Chip War 
Bab 31
“Sharing God’s Love with the Chinese”

#1: Misi Misionaris Richard Chang (2000)
Pada tahun 2000, Richard Chang, seorang insinyur semikonduktor saleh kelahiran Nanjing dan dididik di Texas, berhasil meyakinkan pemerintah Beijing untuk mendanai pembangunan foundry semikonduktor di Shanghai.

Meskipun pemerintahan komunis China biasanya menentang agama, mereka memberikan dispensasi khusus—termasuk mengizinkan pembangunan gereja di dalam fasilitas pabrik—demi ambisi Chang untuk "membagikan kasih Tuhan kepada orang China" melalui transfer teknologi fabrikasi chip modern. Chang, yang menghabiskan karirnya membuka pabrik Texas Instruments di seluruh dunia, melihat ini sebagai panggilan hidupnya untuk memodernisasi tanah leluhurnya.

#2: Pergeseran Geografi Fabrikasi Chip (1990 - 2010)
Selama dua dekade, dominasi manufaktur chip bergeser drastis dari Barat ke Timur. Pangsa pasar fabrikasi AS turun dari 37 persen pada tahun 1990 menjadi 13 persen pada tahun 2010.

Kekosongan ini diisi oleh negara-negara Asia seperti Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan yang secara agresif menggelontorkan dana subsidi. Samsung di Korea Selatan, misalnya, menggunakan kekuatan finansial "brute force" yang didukung pemerintah untuk memenangkan "permainan ayam" (game of chicken) di pasar DRAM: terus berinvestasi besar-besaran saat pasar lesu untuk memaksa pesaing bangkrut dan merebut pangsa pasar mereka.

#3: Kegagalan Awal China: NEC dan Grace (1990-an - 2000)
Sebelum kedatangan Richard Chang, upaya China membangun industri chip sering kali gagal atau hanya menjadi "cangkang kosong". Usaha patungan dengan NEC Jepang di Shanghai gagal mentransfer keahlian karena tenaga kerja lokal hanya diizinkan melakukan tugas dasar.

Grace Semiconductor, yang didirikan tahun 2000 oleh putra presiden China (Jiang Mianheng) dan putra taipan Taiwan (Winston Wang), juga gagal meski memiliki koneksi politik tingkat tinggi (bahkan menyewa adik Presiden Bush, Neil Bush, seharga $400.000/tahun). Ketergantungan pada nepotisme alih-alih kompetensi teknis membuat teknologi mereka tertinggal dan sulit mendapatkan pelanggan.

#4: Strategi SMIC: Meniru Playbook TSMC (2000-an)
Richard Chang mendirikan SMIC (Semiconductor Manufacturing International Corporation) pada tahun 2000 dengan modal $1,5 miliar dari investor internasional seperti Goldman Sachs dan Toshiba. Strateginya sederhana: meniru kesuksesan TSMC.

Kunci keberhasilannya adalah rekrutmen agresif talenta asing. Pada dekade pertamanya, sepertiga insinyur SMIC direkrut dari luar negeri (terutama Taiwan dan AS), dengan slogan "satu staf lama membawa dua staf baru" untuk mempercepat transfer ilmu ke insinyur lokal. Pendekatan berbasis meritokrasi ini, didukung insentif pajak pemerintah, membuat SMIC mampu mengejar ketertinggalan teknologi hanya dalam beberapa tahun.

#5: Kompetisi Global dan Era Smartphone (Pertengahan 2000-an)
Pada akhir tahun 2000-an, SMIC telah berhasil memenangkan kontrak dari pemimpin industri seperti Texas Instruments dan melantai di Bursa Efek New York pada tahun 2004.

Keberhasilan SMIC menambah daftar pesaing bagi TSMC, bergabung dengan Chartered Semiconductor (Singapura), UMC (Taiwan), dan Samsung (Korea Selatan) dalam bisnis foundry. Kompetisi global yang didukung subsidi negara ini menurunkan biaya produksi chip secara signifikan, yang pada gilirannya menguntungkan perusahaan desain fabless Amerika dan memicu ledakan perangkat elektronik konsumen baru yang revolusioner: smartphone.

Leave a Comment