The Art of Thinking Clearly
Bab 45
Self-Serving Bias
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Self-Serving Bias (Bias Melayani Diri Sendiri / Bias Pengabdian Diri).
Deskripsi Judul: "Jangan Salahkan Aku" (Don’t Blame Me).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Self-Serving Bias? Ini adalah kecenderungan untuk mengatribusikan kesuksesan kepada diri sendiri (keputusan brilian, kerja keras, kecerdasan) dan mengatribusikan kegagalan kepada faktor eksternal (nasib buruk, situasi pasar, pemerintah, orang lain). Singkatnya: Jika sukses, itu karena saya; jika gagal, itu salahmu/dunia.
Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Self-Serving Bias karena distorsi kognitif ini berfungsi untuk melayani (serving) ego kita sendiri. Penjelasan ini membuat kita merasa nyaman dengan diri sendiri. Evolusi tidak menghilangkan sifat ini selama ratusan ribu tahun karena biasanya tidak menyebabkan kerugian fatal, meskipun di dunia modern yang penuh risiko tersembunyi, bias ini bisa memicu bencana (seperti kebangkrutan bank).
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Terjadi pada Semua Orang)
Alasan: Penulis menyatakan bahwa kita semua jatuh ke dalam kesalahan ini pada satu waktu atau lainnya, mulai dari siswa sekolah hingga CEO bank besar. Riset menunjukkan bahwa ini adalah mekanisme pertahanan diri yang alami dan membuat "ketagihan" karena rasanya enak bagi ego.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Laporan Tahunan CEO: Jika perusahaan untung besar, CEO memuji dirinya sendiri (keputusan brilian, budaya dinamis). Jika perusahaan rugi, CEO menyalahkan faktor luar (nilai tukar mata uang, pemerintah, praktik dagang China). Pola ini konsisten ditemukan dalam laporan tahunan.
- Teman Sekamar & Pernikahan (Sampah 320%): Lima mahasiswa yang berbagi apartemen ditanya seberapa sering mereka membuang sampah. Jawaban mereka jika dijumlahkan mencapai 320%! Masing-masing melebih-lebihkan peran mereka. Hal yang sama terjadi dalam pernikahan: suami dan istri masing-masing merasa berkontribusi lebih dari 50% untuk kesehatan hubungan.
- Nilai Sekolah & SAT: Jika dapat nilai A, siswa merasa itu karena kecerdasan mereka. Jika gagal, tesnya yang tidak adil. Bahkan, saat ditanya skor SAT setahun kemudian, siswa rata-rata "menaikkan" skor ingatan mereka sebesar 50 poin. Mereka tidak berbohong, hanya memoles ingatan agar sesuai dengan citra diri yang positif.
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Cari Teman Jujur: Apakah Anda memiliki teman yang berani mengatakan kebenaran tanpa menahan diri (no holds barred)? Jika ya, Anda beruntung.
- Undang Musuh: Jika tidak punya teman yang jujur, undanglah musuh Anda untuk minum kopi. Mintalah pendapat jujur mereka tentang kekuatan dan kelemahan Anda. Meskipun menyakitkan, Anda akan berterima kasih selamanya atas objektivitas tersebut.
- Sadar Diri: Sadarilah bahwa saat Anda merasa sukses, Anda cenderung menepuk bahu sendiri, dan saat gagal, Anda cenderung menunjuk jari ke luar. Koreksi otomatis kecenderungan ini.