Self-Selection Bias

The Art of Thinking Clearly 
Bab 47
Self-Selection Bias

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Self-Selection Bias (Bias Seleksi Diri).
Deskripsi Judul: "Jangan Kagum pada Eksistensi Anda" (Do Not Marvel at Your Existence).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Self-Selection Bias? Ini adalah kesalahan logika di mana kita lupa bahwa kita sendiri adalah bagian dari sampel yang sedang kita amati. Kita sering mengeluh tentang "nasib buruk" (seperti selalu terjebak macet atau antrean lambat) atau merasa "takjub" (bahwa kita hidup), tanpa menyadari bahwa kita hanya bisa mengamati hal-hal tersebut karena kita berada di situ. Kehadiran kita sendiri menyeleksi hasil pengamatan tersebut.

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Self-Selection Bias karena pengamat "menyeleksi dirinya sendiri" masuk ke dalam kelompok sampel. Contohnya, dalam kemacetan, probabilitas Anda berada di jalan saat macet jauh lebih tinggi daripada saat lancar (karena saat macet Anda diam di situ lebih lama). Jadi, Anda tidak "sial", Anda hanya terjebak dalam probabilitas seleksi diri sendiri.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Tersebar Luas)
Alasan: Bias ini sangat meresap (pervasive) dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari keluhan pengemudi di jalan raya, kesalahan pemasar dalam membuat survei, hingga renungan para filsuf tentang eksistensi manusia. Kita sering tertipu oleh perspektif kita sendiri sebagai subjek yang mengalaminya.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Kemacetan & Lampu Merah: Anda merasa selalu terjebak di jalur yang macet atau selalu kena lampu merah, sementara jalur seberang lancar. Ini bukan nasib buruk. Alasannya: Anda menghabiskan waktu jauh lebih lama dalam keadaan macet/berhenti daripada saat melaju kencang. Secara proporsi waktu, Anda "menyeleksi" diri Anda untuk lebih sering mengalami kemacetan.

- Survei Telepon & Newsletter: Sebuah perusahaan melakukan survei via telepon untuk bertanya "Berapa telepon yang Anda miliki?". Hasilnya mengejutkan: 0% responden tidak punya telepon. Tentu saja, karena orang yang tidak punya telepon tidak bisa disurvei. Sama halnya dengan survei kepuasan newsletter yang hanya dikirim ke pelanggan aktif (yang tidak puas sudah berhenti berlangganan, jadi tidak terhitung).

- Keajaiban Eksistensi & Bahasa: Orang sering takjub, "Wah ajaib sekali alam semesta ini cocok untuk kehidupan kita!" atau filsuf yang takjub "Hebat sekali bahasa bisa berkembang!". Ini adalah bias. Jika alam semesta tidak cocok atau bahasa tidak ada, kita tidak akan ada di sini untuk membahasnya. Kekaguman itu tidak beralasan.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Waspada Saat Mengeluh: Setiap kali Anda ingin mengeluh "Kenapa selalu aku?", ingatlah Self-Selection Bias. Anda mungkin hanya korban statistik, bukan korban kutukan semesta.

- Periksa Sampel Survei: Jangan percaya hasil survei mentah-mentah. Tanyakan: Siapa yang tidak termasuk dalam survei ini? Apakah metode surveinya menyaring kelompok tertentu (seperti orang tanpa telepon)?.

- Hentikan Kekaguman Palsu: Jangan buang waktu mengagumi fakta bahwa Anda ada. Itu bukan keajaiban, itu prasyarat untuk Anda bisa berpikir.

Leave a Comment