Running Faster?

Chip War 
Bab 34
Running Faster?

#1: Kekhawatiran Andy Grove tentang Offshoring (2010)
Pada tahun 2010, Andy Grove yang sudah pensiun bertemu dengan pemodal ventura China di sebuah restoran Palo Alto dan merasa khawatir. Ia mempertanyakan apakah Silicon Valley cerdas dengan terus melakukan offshoring (memindahkan produksi ke luar negeri) di saat tingkat pengangguran AS melonjak di atas 9 persen akibat krisis 2008-2009.

Sebagai pengungsi yang paranoid, Grove berargumen bahwa "meninggalkan manufaktur 'komoditas' hari ini dapat mengunci Anda dari industri masa depan besok." Ia mencontohkan industri baterai: karena AS berhenti membuat elektronik konsumen 30 tahun sebelumnya, AS kini tertinggal jauh dalam baterai kendaraan listrik, meskipun telah menemukan teknologi intinya. Solusi radikalnya—pajak ekstra untuk produk hasil offshoring—diabaikan karena dianggap kuno di era internet.

#2: Gempa Bumi Taiwan dan Kerentanan Rantai Pasok (1999)
Jauh sebelum kekhawatiran Grove, risiko ketergantungan pada satu lokasi manufaktur sudah terlihat saat gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter melanda Taiwan pada tahun 1999. Gempa ini memadamkan listrik di sebagian besar pulau, termasuk pabrik TSMC.

Meskipun Morris Chang berhasil memulihkan sebagian besar pabrik dalam seminggu berkat akses listrik prioritas dari pemerintah, insiden ini mengekspos kerapuhan rantai pasok global. Meskipun TSMC mengklaim tahan gempa hingga 9 skala Richter, fakta bahwa dunia bergantung pada satu pulau yang rawan bencana (dan terletak di zona konflik geopolitik) mulai menjadi perhatian strategis, meski sering ditepis dengan alasan Silicon Valley juga berada di atas Patahan San Andreas.

#3: Dominasi Alat dan Desain AS (Awal 2010-an)
Meskipun manufaktur fisik pindah ke Asia, analis Wall Street tetap optimis karena Amerika masih memegang kendali atas "alat" untuk membuat chip. Pada awal 2010-an, tiga perusahaan AS—Applied Materials, Lam Research, dan KLA—mendominasi pasar peralatan fabrikasi global (kecuali litografi).

Selain itu, hampir mustahil merancang chip canggih (dengan miliaran transistor) tanpa menggunakan perangkat lunak (EDA tools) dari tiga perusahaan AS: Cadence, Synopsys, dan Mentor, yang menguasai tiga perempat pasar dunia. Dominasi di sektor hulu ini memberikan rasa aman palsu bahwa AS masih memimpin industri.

#4: Konsensus "Run Faster" di Washington (2000-an)
Sepanjang tahun 2000-an, CEO Silicon Valley melobi Washington untuk melonggarkan kontrol ekspor, berargumen bahwa globalisasi dan keterbukaan dagang (bahkan dengan China) adalah kunci inovasi.

Pemerintah AS, dipengaruhi oleh diplomat seperti Robert Zoellick yang ingin menjadikan China "pemangku kepentingan yang bertanggung jawab," mengadopsi strategi "Lari Lebih Cepat" (Run Faster): alih-alih menghambat lawan dengan kontrol ketat, AS harus berinovasi lebih cepat. Saking optimisnya, AS bahkan memberikan status khusus "validated end-user" kepada SMIC China, membebaskan mereka dari kontrol ekspor tertentu dengan asumsi naif bahwa teknologi sipil tidak akan mengalir ke militer.

#5: Peringatan Dini Pentagon yang Diabaikan (2007)
Di tengah euforia globalisasi, Departemen Pertahanan menugaskan studi pada tahun 2007 kepada Richard Van Atta untuk menilai dampak globalisasi chip terhadap militer. Van Atta, veteran industri mikroelektronika pertahanan, memberikan peringatan keras yang kontras dengan konsensus umum.

Ia melaporkan bahwa akses Pentagon terhadap chip mutakhir akan segera bergantung pada negara asing karena begitu banyak fabrikasi canggih pindah ke luar negeri. Ia memperingatkan bahwa posisi kepemimpinan AS akan "tererosi serius dalam dekade berikutnya." Sayangnya, di tengah arogansi "momen unipolar" Amerika, peringatan tentang erosi basis industri pertahanan ini tidak didengar oleh siapa pun di Washington.

Leave a Comment