Regression to Mean

The Art of Thinking Clearly 
Bab 19
Regression to Mean

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Regression to Mean (Regresi ke Rata-rata).
Alias Lain: The Regression-to-Mean Delusion (Delusi Regresi ke Rata-rata).
Deskripsi Judul: "Meragukan Khasiat Dokter, Konsultan, dan Psikoterapis" (The Dubious Efficacy of Doctors, Consultants and Psychotherapists).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Regression to Mean? Ini adalah prinsip statistik di mana kinerja atau kejadian yang ekstrem (baik sangat bagus maupun sangat buruk) cenderung akan kembali mendekati rata-rata (mean) pada periode berikutnya. Cuaca, sakit kronis, performa golf, pasar saham, hingga keberuntungan dalam cinta, semuanya berfluktuasi di sekitar rata-rata.

Mengapa terjadi miskonsepsi? Kita sering salah mengira bahwa perbaikan situasi yang buruk disebabkan oleh intervensi tertentu (seperti pergi ke dokter, menyewa konsultan, atau bahkan melakukan "tarian hujan"), padahal perbaikan tersebut sebenarnya terjadi secara alami karena fluktuasi statistik. Situasi yang sudah mencapai titik terburuk biasanya tidak punya arah lain selain membaik.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Terjadi di Segala Aspek)
Alasan: Fallacy ini terjadi di mana-mana, mulai dari kesehatan, bisnis, hingga pendidikan. Mengabaikan prinsip ini bisa memicu kesimpulan yang merusak, seperti guru atau manajer yang percaya bahwa hukuman (stick) lebih efektif daripada pujian (carrot) hanya karena mereka melihat kinerja buruk membaik setelah dimarahi (padahal itu murni kebetulan statistik).

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Sakit Punggung & Chiropractor: Seorang pria pergi ke chiropractor hanya saat sakit punggungnya berada di titik terparah (ekstrem). Besoknya ia merasa lebih baik dan merekomendasikan terapis itu ke semua orang. Padahal, sakit punggung ekstrem kemungkinan besar akan membaik dengan sendirinya (kembali ke rata-rata) tanpa terapi apa pun.

- Investasi & Tarian Hujan: Seorang penasihat investasi melakukan "tarian hujan" di toilet setiap kali sahamnya anjlok parah. Karena setelah titik terendah saham biasanya naik kembali ke rata-rata pasar, ia merasa tariannya berhasil. Ini absurd, tapi ia merasa terdorong melakukannya.

- Prestasi Siswa & Hukuman: Guru memarahi siswa dengan nilai terendah. Di ujian berikutnya, siswa itu mendapat nilai lebih baik (karena regresi ke rata-rata). Sebaliknya, siswa nilai tertinggi dipuji, lalu nilainya turun sedikit di ujian berikutnya. Guru salah menyimpulkan bahwa "celaan membantu" dan "pujian merusak", padahal itu hanya variasi alami.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Waspada Cerita "Sembuh Ajaib": Saat mendengar cerita: "Saya sakit, pergi ke dokter, lalu sembuh beberapa hari kemudian" atau "Perusahaan rugi, sewa konsultan, lalu profit kembali normal", jangan langsung percaya pada sebab-akibatnya.

- Kenali "Teman Lama" Kita: Sadarilah bahwa seringkali perbaikan tersebut hanyalah ulah "teman lama" kita: regression-to-mean error.

- Pahami Fluktuasi: Sadari bahwa kinerja ekstrem (sangat baik atau sangat buruk) biasanya akan diikuti oleh kinerja yang kurang ekstrem. Ini tidak selalu berhubungan dengan perhatian media atau intervensi luar, melainkan variasi alami.

Leave a Comment