Chip War
Bab 35
“Real Men Have Fabs”
#1: Filosofi "Hiu Peliharaan" Jerry Sanders (Era 1980-an - 1990-an)
Jerry Sanders, pendiri AMD yang flamboyan dan gemar memakai Rolex serta mengendarai Rolls Royce, memiliki analogi terkenal tentang kepemilikan pabrik semikonduktor (fab): itu seperti memelihara hiu di kolam renang pribadi—mahal untuk diberi makan, melelahkan untuk dirawat, dan bisa membunuh pemiliknya jika salah langkah.
Meskipun menyadari risiko finansial tersebut, Sanders bersikeras mempertahankan pabrik AMD karena keyakinan budaya dan pengalaman masa lalunya bertarung melawan Jepang dan Intel. Ia mengadopsi kutipan jurnalis menjadi mantra perusahaannya di tahun 1990-an: "Real men have fabs" (Lelaki sejati punya pabrik), sebuah postur "macho" yang menolak model outsourcing ke foundry seperti TSMC yang saat itu mulai berkembang.
#2: Konsolidasi Brutal Pasar Memori (Akhir 1990-an - 2013)
Seiring berjalannya waktu, biaya pembangunan fab canggih meroket hingga $20 miliar, memaksa konsolidasi ekstrem di pasar memori (DRAM dan NAND). Pada akhir 1990-an, produsen DRAM Jepang yang kesulitan bergabung membentuk Elpida, namun akhirnya gagal dan dibeli oleh Micron pada tahun 2013.
Akibat biaya modal yang "brutal" ini, pasar DRAM menyusut dari lusinan pemain menjadi hanya tiga raksasa: Samsung, SK Hynix, dan Micron, yang menguasai 85 persen pasar pada akhir tahun 2000-an. Bahkan Micron, perusahaan Amerika, melakukan sebagian besar produksinya di Singapura, Taiwan, dan Jepang karena subsidi pemerintah asing yang menggiurkan, menjadikan produksi memori sangat sentris di Asia.
#3: Pengecualian Sektor Analog (Memasuki Tahun 2000-an)
Pada tahun 2000-an, industri terbelah menjadi tiga kategori: Logika, Memori, dan Analog (sensor, sinyal radio, manajemen daya). Berbeda dengan dua kategori pertama yang mengejar Hukum Moore, sektor Analog tidak membutuhkan transistor terkecil.
Karena tiga perempat chip analog diproduksi pada proses 180 nanometer atau lebih besar (teknologi akhir 90-an), biaya pabriknya jauh lebih murah (hanya seperempat dari biaya fab canggih). Hal ini memungkinkan perusahaan seperti Texas Instruments, Analog Devices, dan Skyworks untuk tetap memproduksi chip mereka di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, menjadikannya satu-satunya sektor yang tidak mengalami offshoring massal ke Asia.
#4: Kemenangan Model Fabless di Sektor Logika (Era Modern)
Mantra Sanders akhirnya kalah oleh realitas ekonomi. Biaya $20 miliar untuk membangun fab logika canggih dan korelasi ketat antara volume produksi dengan yield (hasil panen chip) membuat produsen skala kecil tidak mungkin bertahan.
Kecuali Intel yang memiliki skala raksasa, banyak pemain besar AS (seperti Motorola atau National Semiconductor) bangkrut atau beralih menjadi fabless (hanya mendesain, tidak memproduksi). Mereka menyerahkan manufaktur ke TSMC di Asia, membuktikan bahwa dalam era modern, efisiensi modal dan spesialisasi desain jauh lebih menguntungkan daripada kebanggaan memiliki pabrik sendiri.