Chip War
Bab 11
Precision Strike
#1: Kegagalan Pengeboman Masif di Vietnam (1965 – 1968)
Selama Operation Rolling Thunder (1965-1968), militer AS menjatuhkan lebih dari 800.000 ton bom di Vietnam, lebih banyak daripada total bom yang dijatuhkan di teater Pasifik selama Perang Dunia II. Namun, serangan ini hampir tidak berdampak pada militer Vietnam Utara.
Penyebab utamanya adalah ketidakakuratan; rata-rata bom jatuh dalam radius 420 kaki (sekitar 128 meter) dari target. Menghancurkan target spesifik seperti truk atau jembatan dengan teknologi bom konvensional saat itu dianggap mustahil.
#2: Masalah Tabung Vakum dan Keandalan Senjata (1960-an)
Militer AS menyadari bahwa sistem pemandu rudal mereka sering gagal. Rudal anti-pesawat Sparrow III saat itu masih bergantung pada tabung vakum yang disolder dengan tangan. Iklim lembap Asia Tenggara serta guncangan saat lepas landas menyebabkan sistem radar rudal ini rusak rata-rata setiap 5 hingga 10 jam penggunaan.
Data menunjukkan bahwa hanya 9,2% rudal Sparrow yang berhasil mengenai target di Vietnam, sementara 66% mengalami malfungsi teknis, dan sisanya meleset. Hal ini membuktikan bahwa teknologi elektronik pra-semikonduktor terlalu rapuh untuk medan perang modern.
#3: Visi Weldon Word dan Tantangan Jembatan Thanh Hoa (1965)
Pada Juni 1965, Weldon Word, seorang insinyur proyek dari Texas Instruments (TI), bertemu dengan Kolonel Joe Davis dari Angkatan Udara AS. Davis menunjukkan foto Jembatan Thanh Hoa—struktur logam sepanjang 540 kaki yang masih berdiri tegak meski sudah dikelilingi 800 bekas lubang bom (pockmarks) yang meleset.
Sebanyak 638 bom jenis M-117 telah dijatuhkan ke jembatan tersebut tanpa hasil. Davis menantang TI untuk menciptakan sesuatu yang bisa membuat bom jatuh lebih akurat. Word mengusulkan penggunaan mikroelektronika untuk menciptakan "rantai pembunuhan" (kill chain) yang terotomatisasi.
#4: Pengembangan Bom Pemandu Laser Pertama (1965 – 1966)
Kolonel Davis memberi TI waktu 9 bulan dan dana sebesar $99.000 untuk mengembangkan purwarupa. Weldon Word merancang sistem yang sederhana agar andal dan murah (seharga mobil sedan keluarga).
Sistem ini bekerja dengan memasang lensa dan sensor silikon yang dibagi menjadi empat kuadran pada hidung bom. Sinar laser dipantulkan ke target, dan jika bom melenceng, salah satu kuadran silikon akan menerima lebih banyak energi laser, lalu mengirim sinyal ke transistor untuk menggerakkan sirip bom guna memperbaiki arah terbangnya secara real-time.
#5: Uji Coba Keberhasilan di Jembatan Thanh Hoa (13 Mei 1972)
Setelah bertahun-tahun gagal, pada tanggal 13 Mei 1972, pesawat AS menjatuhkan 24 bom pemandu laser (Paveway) hasil rancangan TI ke Jembatan Thanh Hoa. Berbeda dengan ratusan serangan sebelumnya yang gagal total, kali ini bom-bom tersebut mencatatkan skor pukulan langsung (direct hits) yang menghancurkan struktur logam tersebut.
Teknologi sederhana yang terdiri dari sensor laser dan beberapa transistor berhasil mengubah senjata dengan rasio keberhasilan 0-banding-638 menjadi alat penghancur yang presisi.
#6: Warisan Perang Vietnam bagi Teknologi Militer Masa Depan (Pasca 1972)
Meskipun teknologi ini muncul di akhir Perang Vietnam dan tidak bisa mencegah kekalahan AS dalam perang gerilya, keberhasilan bom presisi ini mengubah wajah peperangan selamanya.
Para pemimpin militer seperti Jenderal William Westmoreland mulai memprediksi era "medan tempur otomatis" dengan pengawasan real-time. Vietnam secara tidak sengaja menjadi laboratorium pengujian pertama bagi perkawinan antara mikroelektronika dan bahan peledak, yang nantinya menjadi fondasi keunggulan militer Amerika Serikat di era modern.