Personification

The Art of Thinking Clearly 
Bab 87
Personification

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Personification (Personifikasi).
Deskripsi Judul: "Why You Prefer Novels to Statistics" (Mengapa Anda Lebih Suka Novel daripada Statistik).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Personification? Ini adalah bias kognitif di mana kita bereaksi jauh lebih emosional dan berempati terhadap cerita tentang individu yang spesifik (memiliki wajah dan nama) dibandingkan terhadap statistik abstrak yang melibatkan jumlah orang yang jauh lebih besar.

Kita memiliki "Theory of Mind" (kemampuan memahami perasaan orang lain) yang berevolusi untuk interaksi tatap muka dalam kelompok kecil, bukan untuk memproses angka dalam skala jutaan. Akibatnya, "satu kematian adalah tragedi, satu juta kematian adalah statistik."

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Personification karena kita perlu mempersonifikasikan (memberi wujud manusia/wajah) sebuah masalah agar kita peduli. Angka dan grafik batang tidak menggerakkan hati kita; manusia (wajah) yang melakukannya.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Prinsip Dasar Jurnalisme & Amal)
Alasan: Media massa dan badan amal sangat memahami prinsip ini. Berita selalu menampilkan "wajah" dari krisis (misal: korban gempa tunggal) daripada sekadar data, karena mereka tahu pembaca akan bosan dengan statistik murni. Novel seperti The Grapes of Wrath lebih diingat daripada data ekonomi Depresi Besar.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

- Eksperimen Donasi (Rokia vs. 3 Juta Anak): Psikolog Paul Slovic menunjukkan foto Rokia, anak kurus dari Malawi, kepada satu kelompok. Rata-rata donasi: $2.83. Kelompok lain ditunjukkan statistik bahwa ada 3 juta anak kelaparan di Malawi. Rata-rata donasi turun 50%. Statistik mematikan empati; wajah Rokia memicunya.

- Ultimatum Game (Jarak Fisik): Saat diminta membagi $100 dengan orang asing secara tatap muka, orang cenderung adil (memberi 30-50%). Namun, jika orang asing itu berada di ruangan lain dan tidak terlihat (menjadi abstrak), tawaran turun drastis ke bawah 20%. Tanpa kontak visual/fisik, empati kita menguap.

- Foto Peti Mati Tentara: Selama 18 tahun, media AS dilarang menampilkan foto peti mati tentara yang pulang. Pemerintah tahu bahwa statistik jumlah korban tewas tidak akan menghentikan dukungan perang (karena statistik terasa dingin), tetapi gambar visual individu yang mati akan memicu reaksi emosional publik yang kuat.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini

- Cari Statistik di Balik Cerita: Saat Anda tergerak oleh kisah memilukan seseorang di berita, tanyakan: "Apakah ini kejadian umum atau anomali?" Jangan biarkan satu cerita tunggal mendistorsi pemahaman Anda tentang realitas makro.

- Pahami Konteks: Anda boleh tergerak oleh cerita (novel), tapi pastikan Anda memeriksa data (statistik) untuk mendapatkan konteks yang benar sebelum mengambil keputusan kebijakan atau donasi.

- Gunakan untuk Kebaikan: Jika Anda perlu memotivasi orang (misal: presentasi bisnis atau kampanye sosial), jangan hanya menyajikan angka. Berikan "wajah" pada data Anda. Ceritakan kisah satu orang yang mewakili data tersebut agar audiens peduli.

Leave a Comment