Outcome Bias

The Art of Thinking Clearly 
Bab 20
Outcome Bias

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Outcome Bias (Bias Hasil).
Alias Lain: The Historian Error (Kesesatan Sejarawan).
Deskripsi Judul: "Jangan Pernah Menilai Keputusan Berdasarkan Hasilnya" (Never Judge a Decision by Its Outcome).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Outcome Bias? Ini adalah kecenderungan untuk mengevaluasi kualitas sebuah keputusan semata-mata berdasarkan hasil akhirnya (result), bukan berdasarkan proses pengambilan keputusannya. Kita sering mengabaikan peran keberuntungan atau faktor eksternal. Jika hasilnya bagus, kita anggap keputusannya jenius; jika hasilnya buruk, kita anggap keputusannya bodoh, padahal proses berpikirnya mungkin sama.

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Outcome Bias karena fokus penilaian kita bias berat ke arah outcome (hasil). Aliasnya, Historian Error, merujuk pada cara kita melihat sejarah: setelah peristiwa terjadi (seperti serangan Pearl Harbor), sinyal-sinyal penyebabnya tampak sangat jelas, padahal pada saat kejadian (sebelum hasil diketahui), sinyal tersebut kontradiktif dan membingungkan.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Terjadi Secara Alami)
Alasan: Manusia secara alami menilai apa yang terlihat. Media dan masyarakat selalu mencari "resep sukses" dari mereka yang berhasil (hasil bagus), bahkan jika keberhasilan itu murni karena keberuntungan (seperti cerita monyet saham). Menilai proses itu sulit dan abstrak, sedangkan menilai hasil itu mudah dan konkret.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Monyet "Sukses" di Saham: Bayangkan 1 juta monyet berinvestasi acak. Setelah 20 minggu, secara statistik pasti ada 1 monyet yang selalu untung dan jadi miliarder. Media akan menyorot monyet ini dan mencari "prinsip suksesnya" (cara makan pisang, cara duduk), padahal itu murni keberuntungan acak. Kita menilai monyet itu jenius karena hasilnya sukses.

- Serangan Pearl Harbor: Apakah pangkalan militer harusnya dievakuasi sebelum serangan 1941? Dari perspektif hari ini (outcome sudah terjadi), jawabannya "jelas ya" karena banyak sinyal serangan. Namun, pada tahun 1941, sinyalnya sangat kontradiktif. Menilai keputusan jenderal saat itu buruk hanya karena serangan terjadi adalah bias hasil.

- Menilai Dokter Bedah: Jika Dokter A melakukan 5 operasi tanpa ada yang mati, dan Dokter C melakukan 5 operasi dengan 2 pasien mati, kita otomatis menganggap A lebih hebat. Padahal dengan sampel sekecil itu, hasilnya bisa jadi kebetulan statistik. Menilai dokter hanya dari hasil jangka pendek tanpa melihat proses operasinya adalah tindakan lalai dan tidak etis.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Evaluasi Proses, Bukan Hanya Hasil: Jangan memuji diri sendiri hanya karena keputusan yang untung-untungan berhasil, dan jangan menyalahkan diri sendiri jika keputusan rasional berujung buruk karena sial.

- Analisis Data Saat Itu: Saat menilai keputusan masa lalu, gunakan hanya informasi yang tersedia pada saat itu, saring semua pengetahuan yang Anda dapatkan setelah kejadian (post-attack knowledge).

- Pertahankan Metode Rasional: Jika alasan keputusan Anda rasional dan dapat dipahami, tetaplah pada metode tersebut meskipun kali ini Anda tidak beruntung. Hasil buruk tidak otomatis menandakan keputusan buruk.

Leave a Comment