Omission Bias

The Art of Thinking Clearly 
Bab 44
Omission Bias

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Omission Bias (Bias Pengabaian/Ketidakbertindakan).
Deskripsi Judul: "Mengapa Anda Adalah Solusinya – Atau Masalahnya" (Why You Are Either the Solution – Or the Problem).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Omission Bias? Ini adalah kecenderungan psikologis di mana kita menilai tindakan yang merugikan (harmful action) jauh lebih buruk daripada ketidakbertindakan yang sama-sama merugikan (harmful inaction). Kita merasa lebih bermoral atau kurang bersalah jika membiarkan hal buruk terjadi secara pasif daripada jika kita melakukan sesuatu yang menyebabkan hal buruk itu secara aktif, meskipun hasil akhirnya sama fatalnya.

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Omission Bias karena bias ini muncul dari tindakan omission (penghilangan/pengabaian/tidak melakukan sesuatu). Kita menganggap "absennya tindakan" sebagai sesuatu yang lebih netral atau tidak sejahat tindakan aktif, meskipun konsekuensinya diketahui jelas.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sulit Dideteksi / Terjadi di Situasi yang Jelas)
Alasan: Bias ini sangat sulit dideteksi karena ketidakbertindakan (inaction) kurang terlihat dibandingkan tindakan (action). Ini sering muncul justru pada situasi yang jelas (intelligible), di mana kita tahu kita bisa mencegah bencana dengan bertindak, tetapi memilih diam agar tangan kita tidak "kotor". Hukum dan moralitas masyarakat kita sangat dipengaruhi oleh bias ini (contoh: perbedaan hukum antara eutanasia aktif dan pasif).

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Dilema Pendaki Gunung: Skenario A: Anda mendorong teman jatuh ke jurang (aktif). Skenario B: Teman terpeleset, Anda bisa menolong tapi memilih diam (pasif). Hasilnya sama-sama teman mati. Secara rasional bobotnya sama, tapi hati nurani kita menilai Skenario A jauh lebih jahat. Ini adalah omission bias.

- Obat FDA & Vaksinasi: Pejabat obat takut menyetujui obat yang menyelamatkan 80% orang tapi membunuh 20% orang (efek samping = tindakan aktif). Mereka lebih memilih tidak menyetujui obat itu (membiarkan 100% mati karena penyakit = pasif). Orang tua juga menolak vaksinasi karena takut risiko efek samping (aktif), mengabaikan risiko penyakit yang jauh lebih besar (pasif).

- Investasi & Bisnis: Investor lebih memaafkan perusahaan yang tidak mengembangkan produk baru (pasif) daripada perusahaan yang gagal membuat produk baru (aktif), padahal keduanya berujung bangkrut. Membiarkan saham busuk di portofolio terasa lebih baik daripada aktif membeli saham busuk.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Ingat Slogan 1960-an: Gunakan mentalitas gerakan mahasiswa: "Jika Anda bukan bagian dari solusi, Anda adalah bagian dari masalah." (If you’re not part of the solution, you’re part of the problem).

- Fokus pada Hasil Akhir: Jangan menilai moralitas berdasarkan "aktif vs pasif", tapi nilailah berdasarkan konsekuensi akhirnya. Jika diam menyebabkan kematian, itu sama buruknya dengan membunuh.

- Bedakan dengan Action Bias: Ingat perbedaannya: Action Bias terjadi saat situasi kabur (kita bertindak hiperaktif tanpa arah). Omission Bias terjadi saat situasi jelas (kita tahu dampaknya tapi memilih diam).

Leave a Comment